Mengutuk tindakan kekerasan oleh Polisi dan elemen ormas kepada kaum buruh yang sedang berjuang untuk kenaikan upah minimum

Pernyataan Sikap Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI)

Tidak hanya dimiskinkan secara ekonomi, kaum buruh juga diperlalukan tidak manusiawi. Sore ini, tanggal 21 November 2014, Aparat keamanan yang bekerja bersama ormas-ormas di kabupaten bekasi melakukan tindakan kekerasan yang brutal. Demonstrasi kaum buruh yang secara hukum dilindungi oleh Undang-undang dibubarkan secara paksa. Kaum buruh juga mendapat perlakuan yang bisa dikategorikan sebagai tindak kekerasan yang terencana. Sangat terlihat rapi dan terkoordinir dari gerakan-gerakan ormas tersebut. Kami menduga kondisi ini telah direncanakan sebelumnya.

Sejak satu bulan ini, ribuan buruh di seluruh kabupaten Bekasi, terutama di kawasan-kawasan industri menggelar aksi demonstrasi untuk menuntut kenaikaan upah. Para buruh berkonsentrasi di gedung tempat Dewan Pengupahan yang mengadakan rapat untuk menentukan besaran Upah Minimum. Parah buruh hadir diluar gedung untuk memberikan dorongan moral kepada wakil-wakkilnya yang sedang memperjuangkan kenaikan upah bagi penghidupan mereka. Namun, wakil dari Apindo tidak mau menerima usulan dr serikat pekerja, jika kita lihat tuntutan buruh di kabupaten bekasi sangatlah wajar UMK di kisaran Rp. 3.000.000. Ini sangat realistis, melihat bahwa Bekasi memiliki kawasan terbesar di Indonesia. Bandingkan dengan kota-kota yang lainnya, misal beberapa daerah di jawa timur yg angkanya mencapai Rp. 2.700.000. Sementara itu wakil dari Pemerintah Kab. Bekasi juga tidak mau menggubris masukan dari buruh, surat rekomendasi DPRD pun tidak di gubris. Baca lebih lanjut

Iklan

Lawan Politik Elit Borjuasi ! Cabut Paket UU Anti Demokrasi Rakyat (UU Pilkada, UU MD3S, dll) Bangun Alat Politik Alternatif Sejati !

Demokrasi Borjuasi : Melahirkan Kesengsaraan Rakyat

Agustus lalu, genap 69 tahun sejak Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, pada kenyataannya kita tak kunjung lepas dari penjajahan modal. Selain nostalgia semu soal kemerdekaan, tahun 2014 menjadi momen politik yang menentukan pergantian rezim pro modal ke rezim pro pasar bebas berikutnya, Jokowi-JK. Di tengah gegap-gempita pemilu dan kisruh parlemen elit hari ini, tentunya kita tidak bisa melepas bagaimana situasi nasional Indonesia yang akan bergejolak. Hal yang paling penting untuk kita tinjau adalah bagaimana situasi ekonomi nasional prapemilu maupun pasca pemilu berlangsung.

Pasca krisis global pada tahun 2008, kita dihadapkan dengan situasi penyelamatan krisis global. Penyelamatn krisis tersebut dijalankan dengan skema agenda kompetis pasar bebas (globalisasi) di seluruh kawasan di dunia. Skema globalisasi dijalankan melalui skema liberalisasi dalam tiga aspek yaitu liberalisasi modal, liberalisasi pasar dan liberalisasi tenaga kerja. Di kawasan Asia Tenggara sendiri skema tersebut dilakukan dengan merealisasikan pasar bebas antar negara di kawasan tersebut. Misalnya kesepakatan pasar bebas AC-AFTA, AIFTA, yang menghantarkan Indonesia ke dalam situasi keruntuhan kedaulatan ekonomi. Pada tahun 2015 nanti kita akan dihadapkan pada pengesahan persaingan bebas antar kawasan ASEAN melalui kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). MEA merupakan turunan dari berbagai kesepakan internasional yang gencar dilakukan pada akhir 2013. Beberapa pertemuan internasional tersebut diantaranya pertemuan WTO, APEC, G-8, G-20, dan sejenisnya. Dengan alibi kerjasama ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi nasional, mereka menawarkan obat mujarab dari krisis, yaitu pembukaan pasar bebas, liberalisasi arus modal dan liberalisasi pasar dan liberalisasi tenaga kerja. Baca lebih lanjut

LAWAN REZIM UPAH MURAH SBY-BOEDIONO, SAATNYA KELAS BURUH BERKUASA

Pernyataan Sikap Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI)

pada aksi nasional 22 Oktober 2013

Ekonomi Global: Krisis di Negeri-negeri imperialis

Hari ini kita menjadi saksi hidup atas sebuah tragedi besar dalam tatanan sistem ekonomi politik kapitalisme. Kita menyaksikan krisis demi krisis yang menimpa dunia yang kian kronis setiap harinya. Krisis yang melanda ekonomi pasar membuat cita-cita ekonomi yang sejati, yakni membangun kesejahteraan bersama, semakin jauh dari kenyataan. Krisis umum Kapitalisme pada abad ke-21 ini telah semakin memperjelas hari depan mereka yang sesungguhnya; Bahwa Kapitalisme tidak mempunyai tempat di masa yang akan datang. Baca lebih lanjut

LAWAN PENJAJAHAN MODAL BENTUK ORGANISASI POLITIK RAKYAT

Kawan-kawan ormas buruh dan tani semua, sepuluh tahun sudah janji reformasi, di dalam masa itu pemerintah telah mencoba keluar dari jebakan krisis ekonomi dengan menggunakan Politik Kerjasama, Bimbingan dan Hutang dari lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF (Dana Moneter Internasional) dan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). Namun semakin dijalankan politik yang dianut oleh pemerintah semakin membuat negara kita terpuruk. Bahkan, kerjasama ini semakin menguras modal dan kekayaan nasional seperti kekayaan tambang, minyak, gas, hutan, tanah, perikanan.

Pemerintah dan DPR telah menjual badan usaha milik negara (BUMN) seperti Telkom, Indosat, Listrik, Gas. Sehingga, untuk barang-barang kekayaan nasional ini tidak dipakai untuk melayani kebutuhan rakyat.

Pemerintah dan DPR telah menjual bank-bank milik negara, sehingga Bank ini tidak lagi mau melayani petani dan usaha milik rakyat. Bank yang dikuasai asing tersebut hanya mau melayani konsumsi rakyat bagi produk kapitalis, perusahaan milik mereka sendiri seperti mobil, sepeda motor dan kartu kredit. Namun tidak untuk melayani rakyat membangun usaha mandiri.

Pemerintah dan DPR juga akan menjual kembali banyak pelabuhan, bandara, jalan tol, kepada pengusaha asing atas perintah ilmiah Bank Dunia, IMF dan WTO melalui program penyesuaian struktural.

Mengapa elit politik pemerintah dan DPR selalu setuju rencana ini sebab selain dari prilaku korup, sesungguhnya merekalah para pemilik kontrak, direksi, komisaris, pengacara dan konsultan, wakil resmi dan tidak resmi dari para pengusaha tersebut. Dan selama ini mereka berselimut Partai Politik, DPR, Presiden, Gubernur dan Bupati di tanah air.

Dilain pihak, dengan dalih menciptakan lapangan kerja, elit-elit ini sangat gencar membujuk dan menarik investor ke tanah air. Untuk usaha ini Pemerintah dan DPR merubah semua hukum, merancang kebijakan dan peraturan sehingga semakin menindas kaum buruh.

Untuk menipu kita, mereka juga fasih menggunakan bahasa-bahasa yang pro rakyat, wong cilik dan para buruh dan petani. Lalu, bagaimana kita bisa membedakan mereka. Menemukan wajah asli mereka yang sesungguhnya ganas kepada rakyat?

Mudah saja, dalam sejarah hidupnya keseharian mereka sejak dulu tidak pernah hadir, bekerja dan bersama-sama kaum buruh dan petani memperjuangkan hak-haknya. Bahkan, bisa jadi sepanjang hidup mereka adalah bagian dari kekuasaan pemerintah masalalu dan pemerintahan sekarang yang terus menindas ini.

Pada masa lalu dan sekarang mereka juga menggunakan segala dalil ilmiah dan agama untuk mengesahkan kebijakan mencabut subsidi bagi rakyat miskin, membiarkan upah buruh murah, membiarkan pendidikan dan kesehatan mahal, membiarkan tanah-tanah petani dirampas, membiarkan para buruh tani dan petani kecil tidak mempunyai tanah.

Mereka adalah pemerintah yang sejak orba sampai sekarang terus menerus berbicara bagaimana caranya mencari investor agar menanamkan modal di Indonesia yang sesungguhnya mendorong agar rakyat kita menjadi buruh murah di negeri sendiri dan tanpa perlindungan karena menghidupkan sistem buruh kontrak.

Dalam bahasa lain, Pemerintah dan DPR yang mengabdi dan menghidupkan terus sistem Kapitalisme. Paham yang mendorong Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Budaya hanya untuk PEMODAL bukan untuk RAKYAT. Pemerintah yang menjajah atas nama modal.

Bahkan, dengan terampil mereka juga telah membuat serikat buruh yang selalu menarik iuran anggota namun pengurus dan politik organisasinya hanya pro dengan perusahaan bukan pro buruh. Menjadi corong dan juru bicara pengusaha kepada kaum buruh bukannya jurubicara dan alat perjuangan kaum buruh. Inilah Saatnya Meninggalkan Serikat Buruh Gadungan semacam ini.

Perlawanan Buruh
Meski demikian, usaha-usaha perlawanan kaum buruh di nasional dan wilayah terus menerus tumbuh dan menggelora. Demikian juga perlawanan kaum tani yang tanah dan hutannya terus menerus dirampas oleh pengusaha kehutanan dan perkebunan, tidak pernah surut memberikan perlawanan.

Selama ini, persoalan-persoalan perburuhan dilawan oleh organisasi buruh. Pembangunan ormas-ormas buruh juga telah meningkat tidak hanya di wilayah semata namun juga telah membentuk konfederasi nasional kaum buruh. Demikian juga persoalan kaum tani dengan tumbuhnya serikat dan organisasi tani di wilayah hingga nasional.

Oleh kesadaran sejarahnya, peningkatan kualitas kerjasama antara buruh, petani, pemuda dan mahasiswa dalam mendorong perjuangan juga terus dilakukan. Ribuan kali aksi massa kerjasama telah dilakukan. Namun, pemerintah, DPR, elit partai politik yang ada sekarang tetap saja menghasilka kebijakan yang terus menerus menindas kaum buruh dan petani.

Apa Organisasi Politik
Inilah saatnya ormas-ormas meneruskan dan meluruskan jalan perjuangannya. Diliruskan karena kerapkali para buruh merasa silap dengan perilaku partai politik borjuis yang seolah pro buruh dan petani, selalu mengunakan bahasa-bahasa kerakyatan untuk menipu kembali rakyat.

Saatnya sekarang, Organisasi Massa Buruh, Tani, Pemuda dan Mahasiswa mengukuhkan diri sebagai organisasi politik yang berjuang mengalahkan KAPITALISME.

Untuk itu dibutuhkan Organisasi Politik. Organisasi Politik adalah wadah yang memperjuangkan kepentingan politik seluruh rakyat khususnya Kaum Buruh dan Tani agar berkuasa dalam kekuasaan politik, ekonomi sosial dan budaya. Sebab, pemerintah telah dikuasai oleh para pemodal.

Mengapa organisasi politik, sebab ormas-ormas kita tingkat tertinggi perlawanannya selama ini adalah menekan dan kemudian menitipkan agenda kepada pemerintah. Padahal mereka adalah antek-antek sejati dari kapitalisme.

Siapakah yang Membangun dan Memimpin Organisasi Politik. Mereka adalah Kaum Buruh, petani, pemuda dan mahasiswa yang telah mengabdikan diri dalam perjuangan massa selama ini. Meraka yang selalu membangun, belajar dan hidup bersama ormas.