Surat terbuka menyambut Kongres I KPBI

Jakarta,  3 September 2016

Kepada Kawan-Kawan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)

Salam Persatuan Perjuangan !

Salam Pembebasan Nasional !

Sebagai awalan kami dari Persatuan Perjuangan Indonesia turut berbahagia karena akhirnya sampai waktunya Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) melakukan Kongres I. Buah dari suatu proses pembangunan bila dilihat lagi ke belakang telah melalui perjalanan yang panjang. Jatuh bangunnya proses penyatuan sebagai bagian dalam proses dialektika yang tidak membuat jera tetapi malah semakin memperkuat mental dan semangat kaum kita yaitu kaum buruh untuk tegap memimpin perubahan menuju tatanan dunia baru kedepan yang kelak akan membawa kepada kesejahteraan rakyat dan yang memanusiakan manusia. Terbentur, terbentur, terbentur, TERBENTUK. Terbentuk menjadi Konfederasi baru dan juga terbentuk kesadaran kaum buruh dari kesadaran yang ekonomis menjadi kesadaran politik yang berwatak klas buruh.

Seperti diketahui bersama bahwa saat ini kita dibawah kekuasaan Neoliberal. Sistem ekonomi yang rakus, sistem ekonomi yang korup dan sistem ekonomi yang tidak memanusiakan manusia. Sistem ekonomi yang telah terbukti hanya melahirkan krisis dan segala upaya penyelamatan krisis dalam presfektif neoliberal tersebut hanya melahirkan kehancuran. Kehancuran bukan hanya disisi ekonomi tetapi hingga tatanan masyarakat. Di regional Asia Tenggara telah dijalankan program neoliberal yaitu pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA akan mendorong pembukaan pasar bebas yang menghilangkan batas-batas antar negara melalui penghapusan tarif bea masuk dan menghapus pembatasan investasi asing di seluruh sektor ekonomi. Ada lima elemen dalam MEA yaitu pergerakan bebas arus barang, pergerakan bebas jasa, pergerakan bebas investasi, pergerakan bebas modal dan pergerakan bebas tenaga kerja terampil. Kelima elemen ini juga dilengkapi dua komponen lain yaitu sektor integrasi prioritas yang terdiri dari 12 sektor (produk berbasis pertanian, transportasi udara, otomotif, elektronik, perikanan, pelayanan kesehatan, logistik, produk berbasis logam, tekstil, pariwisata, dan produk berbasis kayu) dan pengembangan sektor pangan, pertanian dan kehutanan. Dan sebagai bagian dari ASEAN, Indonesia harus tunduk dan mengikuti program neoliberalisme tersebut.

Kapitalisme Indonesia yang dalam sejarahnya merupakan kapitalisme kloningan telah membentuk watak-watak borjuasi Indonesia menjadi borjuasi berwatak rente dan komprador. Dengan watak inilah borjuasi Indonesia menjalankan kekuasaannya. Dibawah kepemimpinan Jokowi-JK saat ini menjalankan agenda yang sejalan dengan MEA yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang di era Sby-Budiyono dikenal dengan MP3EI. RPJMN adalah upaya yang dilakukan kekuasaan borjuasi agar modal international dengan bebas mencengkeram dan menguasai seluruh asset-aset vital dan sumber daya alam Indonesia. Percepatan proyek pembangunan infrastruktur mulai dari jalan, pelabuhan,bandara, industri tambang, perkebunan, pertanian dan perikanan, energy dan kelistrikan harus dilihat merupakan bentuk pelaksanaan dari agenda tersebut, Intinya agenda tersebut hanya akan menguntungkan bagi kepentingan neoliberalisme dan memperkokoh cengraman kapitalisme yang sebenarnya sedang krisis itu.

Efek yang sudah dan akan timbul dalam pelaksanaan agenda tersebut adalah penderitaan rakyat karena akan terus meningkatnya penggusuran lahan pertanian, hutan dan pesisir juga terjadi liberasisasi pedesaan. Dan hal ini juga akan sejalan dengan meningkatnya represifitas terhadap gerakan rakyat dan tertutupnya ruang-ruang demokrasi.

Di sektor perburuhan dengan masih dilaksanakannya politik upah murah ditambah penerapan agenda liberalisasi perburuhan oleh kekuasaan borjuasi menambah penderitaan kaum buruh Indonesia. Meningkatnya pemPHKan massal, meningkatnya pemberangusan serikat dan pengkriminalisasian aktivis buruh seperti hantaman yang bertubi-tubi yang dialami gerakan buruh. Belum lagi serangan balik wujud penghianatan yang dilakukan pengusahan dan negara terhadap kesepakatan harmonisasi beberpa waktu lalu masih terus terjadi. Hal yang mengakibatkan gerakan buruh mengalami penurunan tingkat perlawanannya dan gerakan solidaritasnya yang pernah dikenal dengan istilah gerebek pabrik. Dalam situasi ini konfederasi yang sudah ada ternyata juga belum mampu memimpin pemulihan gerakan buruh. Hal ini makin diperparah dengan keterlibatan konfederasi besar dalam pemilihan capres lalu. Padahal dua capres tersebut memiliki watak yang sama dan mewakili kepentingan yang sama yaitu kepentingan neoliberal. Hal yang makin membuat banyak massa buruh terpecah dalam presfektif kesadaran politiknya. Banyak massa buruh termanipulasi kesadarannya yang dibentuk oleh kaum borjuasi dan oportunisme kaum reformis berupa jani-janji palsu dan figur penokohan yang katanya akan membawa perubahan. Yang kesemuanya itu sejatinya bukan berasal dari kaum buruh sendiri.

Ditengah badai yang dialami kaum buruh Indonesia itu ternyata masih banyak juga yang tetap berdiri tegap, bertahan dan tidak goyah. Mereka bergerilya membangun kekuatan bersama yang pada akhirnya terbentuklah konfederasi baru dengan semangat persatuannya yaitu Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI). Konfederasi yang tetap setia dalam watak klas buruh yang revolusioner itu. Konfederasi yang setia pada perjuangan massa rakyat. KPBI lahir ibarat kekuatan cahaya baru ditengah badai. Cahaya yang akan membawa kaum buruh kembali kepada garis perjuangannya. Cahaya yang akan membawa proses-proses penyatuan semua unsur gerakan buruh Indonesia. Cahaya yang akan mempertegas kembali kesadaran kaum buruh bahwa ditanganyalah letak kepemimpinan akan perubahan sejati rakyat. Kesadaran itu adalah modal utama kaum buruh memimpin massa si lapar, si hina dan tertindas untuk menembus badai dan menjungkirbalikkan kapitalisme untuk menuju tatanan dunia baru yang 100% merdeka.

Persatuan Perjuangan Indonesia secara terbuka menyatakan mendukung terbentukkan KPBI. Dan bukan hanya itu, melalui kader-kadernya Persatuan Perjuangan Indonesia akan terlibat dalam setiap proses kedepan dalam memajukan terus presfektif klas buruh yang anti terhadap kapitalisme dalam tubuh KPBI. Karena hal itu merupakan bagian dari yang sudah diamanatkan dalam kongres Persatuan Perjuangan Indonesia agar kader-kadernya terlibat dalam setiap pembangunan gerakan rakyat dalam pejuangan pembebasan nasional untuk menumbangkan kapitalisme di Indonesia dan juga internasional.

Akhir kata sebagai kawan seperjuangan dan mewakili Persatuan Perjuangan Indonesia mengucapkan selamat berkongres kepada semua unsur KPBI.

Merdeka 100%!!

 

Ketua Umum                                                                                  Sekretaris Jenderal

Helmi Yadi                                                                                        Adhi Wibowo

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s