Wawancara Imajiner dengan Jhon Silaban : “SEMANGAT DAN API PERLAWANAN YANG TAK PERNAH PADAM”

1557490_10204775146441154_2890749856385412893_nLarut pagi di Sekretariat Tambun, aku duduk di sisi pojok warung Bu Tuti. Kopi sudah dingin, kawan-kawan pun sudah berkompromi dengan lelah sehabis rapat malam tadi. Ada sesuatu yang membuatku tak bisa melepas tatapan dari papan catur, susunan bidak tak beraturan dan barisan pion tanpa ster. Hanya kupandangi saja, tanpa berusaha mencari ster catur yang hilang. Konsentrasiku entah kemana.

 

“Hey, anak muda gini-gini aja. Katanya mau merdeka, katanya mau sejahtera….”

 

Lamunan seketika buyar, berbareng suara akrab yang tanpa kusadari duduk di kursi sampingku. Sosok sederhana dengan balutan kaos merah bertuliskan “Belajar, Berjuang dan Berkuasa” menutupi perutnya yang menyembul tambun. Gaya khasnya masih sama, di sela waktu santai selalu asik dengan permainan di gadgetnya, namun tak sedikitpun mengurangi konsentrasinya ketika diajak bicara. BJ alias Bang Jhon alias Lek Jhon, sapaan akrabnya, tak menunjukkan raut lelah meskipun aktifitas sangat padat, apalagi menjelang momentum perlawanan kenaikan BBM.

Aku (A)   : Pusing Lek, makin hari rezim ini makin gila. Aku simak beberapa hari ini demo-demo soal tolak BBM terjadi spontan dimana-mana, bahkan sampai ada yang mati di medan aksi. Tragis. Malah sekarang Pak Wapres nantangin kita, dia bilang perlawanan cuma akan tahan dua minggu, terus selesai. Enteng banget dia ngomong, udah nyusahin orang banyak, nantangin gerakan pulak. Iyuuhh….

 

John Silaban (JS)  : Itu emang konsekuensi yang harus kita hadapi selama negeri ini masih dicengkeram sama kapitalisme. Kalo boleh jujur, kita dijajah 400 tahun lebih, kemerdekaan yang katanya kita dapat setelah proklamasi dulu, tidak membawa kita kepada kemerdekaan berdaulat, tapi mengubah sifat dan bentuk penjajahan di negeri kita. Kita belum merdeka, makanya tugas generasi sekarang, yang masih berpijak di tanah nusantara harus melawan bentuk penjajahan baru itu. Aku putra Batak, kau putra Jawa, dan kawan-kawan lainnya harus menanggalkan perbedaan suku, agama, warna kulit dan darimana kita lahir. Kita sesama putra bangsa harus bergerak bersama, berjuang bersama, melawan bersama.

 

Aku (A)  : Iyee Lek. Sudah cukup lama kita di jajah, cukup lama juga kita bekerja keras membangun perlawanan. Mengorganisir – pernah gagal, bahkan bubar. Mobilisasi aksi – pun sering, dibubarkan berkali-kali sudah sering. Berdebat teori bang bung bang bung udah jadi makanan tiap hari…

 

Lek Jhon meletakkan gadgetnya, nampaknya dia mulai serius dengan diskusi ini. Sorot matanya tajam, khas gaya meyakinkan massa.

 

John Silaban (JS) : Aku dulu lahir dari gerakan mahasiswa, kau juga. Kawan-kawanku pernah berdebat keras tentang apa arah selanjutnya perjuangan rakyat. Aku ingat dulu sewaktu diskusi dengan seorang kawan di angkot M13, bahwa Orde Baru tumbang – perjuangan harus dilanjutkan. Tapi berjuang yang bagaimana…. Ku pikir gak tepat kalo mahasiswa kembali duduk manis di dalam kampus, kita harus keluar kampus, mengajak rakyat, khususnya kaum buruh untuk mengorganisir diri dan belajar filsafat perjuangan sebagai senjata.

Fungsi kita mengajarkan filsafat dan ilmu ekonomi-politik yang kritis dan sejati kepada rakyat. Ingat, kita ini cuma kompor, perubahan yang nyata itu ada di praktek perjuangan ekonomi-politik kaum buruh. Karena hanya rakyatlah sumber kekuatan perubahan. Mau tidak mau, suka tidak suka kapitalisme harus dihancurkan. Setelah kita satu pandangan, mari bangun persatuan perjuangan massa rakyat menuju kemerdekaan 100%.

 

Aku (A): Iya Lek…. Teh manisnya udah jadi ager tuh, Lek…

 

Lek Jhon tak mengacuhkan, malah makin berapi-api bicara.

 

John Silaban (JS) : Kau sebagai generasi muda seharusnya lebih berani dan punya harga diri, lebih lantang menantang penindas. Aku dan empat kawanku dulu, dengan modal tekad dan nekat, tanpa logistik yang mencukupi, ke sana ke sini belajar dan belajar serta berusaha membangun serikat buruh. Kami rasakan betul manis-pahitnya membangun dari nol yang namanya serikat buruh, di saat nuansa berorganisasi di tingkat pabrik tidak semasif sekarang. Pernah kejadian, saat baru-baru kami mendirikan Komite Advokasi Buruh, saat masih unyu-unyu mencoba menyelesaikan persoalan hubungan industri, lalu gagal. Banyak buruh yang tetap di PHK meski sudah pontang-panting berjuang bersama. Lalu istri dari salah seorang mereka menghampiriku, sambil menggendong anaknya yang masih balita, memaki-maki sambil menangis karena suaminya tak bisa lagi membiayai kehidupan rumah tangga dan membayar cicilan hutang. Aku kecewa pada diriku sendiri karena jawaban dari mulutku hanya : sabar.

Itu salah satu pelajaran yang paling berharga buat ku. Bahwa berjuang membangun kekuatan kelas buruh itu tidak main-main, karena konsekuensinya juga tidak main-main, nyawa keluarga buruh. Aku sadar, modal semangat dan cita-cita itu tidak cukup. Tapi harus disertai usaha keras, tekun belajar, dan berani memperbaiki kesalahan kemudian berani mencoba inovasi-inovasi baru dengan pertimbangan yang matang. Itu semua harus kami kerjakan meski dengan semua keterbatasan sekalipun.

Jika kau ingin mewujudkan sesuatu, berani aja dulu, coba aja dulu… Urusan salah atau benar tinggal kita evaluasi dan perbaiki. Tapi jangan sekali-kali menganggap perjuangan itu main-main.

 

Lek Jhon menarik sebatang Mild ke mulutnya, lalu membakarnya dengan mancis. Hening sejenak. Garis-garis halus di dahinya, menyiratkan betapa kerasnya perjuangan Lek Jhon dan kawan-kawannya dulu, dengan segala keterbatasan. Pergi aksi dengan menantang terik dan lapar, jika tak ada ongkos naik angkot lantas jalan kaki, sehari-hari sering mendengar gerutuan Mak-mak warteg karena keseringan nge-bon, belum lagi dihujani keluh-kesah kawan-kawan buruh yang diperlakukan keras di pabrik.

 

Aku (A) : Keren….

 

John Silaban (JS)  : Apaan, keranjang duren !

 

Aku (A)  : Hihihi.. Tapi Lek, apa yang membuat FPBI (baca : Federasi Perjuangan Buruh Indonesia) bisa setangguh sekarang ? Merinding aku, Lek, kalo ikut aksi di tengan ribuan lautan massa berwarna merah kemarin…

 

John Silaban (JS) : Konsisten pada prinsip dan kerja keras ditengah tantangan keterbatasan, represif dan godaan oportunisme. FPBI tidak dibangun dengan sim salabim.. Jebret ! Langsung jadi. Tapi melalui proses jatuh bangun berkali-kali. Dari masa masih bentuk Komite Advokasi Buruh, hingga terbentuk FKBC (Forum Komunikasi Buruh Cikarang) dulu kita berjuang bersama pejuang-pejuang dari PT. Sintertech dan PT. Madusari… Semangat kami disambut oleh momentum naiknya eskalasi gerakan buruh, beberapa PT. menyatakan ikut bergabung dan terbentuklah FPBJ, hingga FPBI di tahun 2013.

Prosesnya cukup panjang, dari gagal – mencoba lagi, salah – perbaiki lagi, bubar – menghimpun lagi….

 

Aku (A) : Dari pengalaman dulu hingga sekarang FPBI semakin tangguh, sudah gak ada beban lagi dong Lek, kalo menghadapi kasus-kasus PHK buruh… Kan udah terbiasa dan sudah paten strateginya menghadapi ancaman kaum modal… Ya kan?

 

John Silaban (JS) : Jangan dikira aku tak punya beban mental jika ada satu anggota pun yang kena PHK. Sakit hati aku melihat kawan yang berjuang malah di PHK. Tapi lebih sakit menemukan buruh yang hanya duduk diam menunggu hasil perjuangan kawan-kawannya, mencari aman dan terkesan tak peduli kawannya di PHK. Kaum modal yang didukung sama pemerintah, hari ini semakin cerdik menindas kaum buruh. Mereka terus memperbaharui metode dan trik menindas, mulai dari penerapan sistem kontak-outsorching, politik upah murah, ancaman PHK massal dengan beragam alasan, hingga praktik intimidasi dan pemberangusan serikat. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus melawan bersama-sama. Jangan lagi kita tercerai berai sesama kawan sendiri. Ajak kawan-kawanmu yang belum berserikat untuk berorganisasi dan belajar-berjuang bersama. Himpun kekuatan sebesar-besarnya untuk memukul sekeras-kerasnya para penjahat kemanusiaan itu, para tuan modal itu.

 

Aku (A) : Hmmm….. Salud aku sama semangat mu, Lek….

 

John Silaban (JS)  : Manusia itu baru disebut manusia, bila ia bisa memanusiakan manusia lainnya. Jika mereka yg ditindas adalah temanmu maka kau harus membela dan membantunya.  Jangan sekali kali kau tinggalkan kawanmu dan rakyatmu yang sedang berjuang….

 

Aku (A)  : Di sruput dulu Lek….

 

Satu teguk kopi dinginku sekarang sudah menjadi ampas. Kuamati gerak-gerik Lek Jhon yang tiada duanya. Sederhana, bercelana pendek hitam, sendal gunung dan kaos merahnya. Tapi pagi ini tak seperti biasa, gerak tangannya tak begitu aktif saat berbicara. Nuansa pagi yang tenang nampaknya membuat beliau sedikit kalem.

 

Aku (A)   : Lek, sepanjang Lek Jhon terlibat dalam penyelesaian kasus di perburuhan, pernah tidak ditawari kesepakatan damai atau, ehm, menerima hadiah dari salah seorang pengusaha untuk menyudahi kasus ?

 

John Silaban (JS): (tersenyum) Ditawari, sering. Sajian restoran yang paling mahal hingga segepok uang, pernah. Jabatan tertentu, pernah juga. Bagiku, TIDAK. Ku tolak mentah-mentah. Anggota-anggota kami diluar menahan lapar akibat kena PHK dan ratusan buruh yang statusnya tetap dikontrak.

Gak ada hak bagi pengurus serikat untuk bersenang-senang diatas penindasan yang dialami anggotanya, dan kaum buruh pada umumnya. Perdamaian dengan iming-iming yang tak seberapa itu adalah penghinaan bagi perjuangan. Aku gak mau berdamai dengan penindas.

 

Aku (A)  : Jika tak mau berdamai, berarti berperang ya, Lek. Dengan kekuatan kita sekarang, sudah cukupkah bekal kita ?

 

John Silaban (JS)  : Kita tak boleh cepat puas dengan kerja keras kita. Berjuang itu jangan setengah-setengah, harus sepenuh hati sampai detak nafas terakhir. Esok hari, setiap kita membuka mata, selalu ada persoalan dan tantangan yang harus kita selesaikan. Kita mesti harus terus bekerja dan mematangkan strategi perlawanan kita, jangan sampai padam atau membelok karena hal-hal yang tidak prinsipil. Kita tak bisa meramalkan apakah besok – lusa – minggu depan – atau berapa tahun lagi kita mendapat kemenangan, revolusi. Kita harus terus mendidik disiplin dan kesiapan kita, apapun tantangan rezim dan kaum modal, kita harus lawan dengan kekuatan kelas buruh yang terorganisir.

Jangan pernah takut – teruslah melawan kebenaran itu pasti datang ini bukan soal menang dan kalahnya, tapi ini harga diri kita semua.

 

Aku (A) : (mengangguk) Aku bangga Lek, gerakan yang sedang kita bangun ini juga mampu melibatkan kaum wanita baik yang muda hingga yang usia matang, menjadi satu barisan – bersama-sama berjuang. Salah satunya Mak Fatonah, ketua PTP Siliwangi dulu, salud aku sama semangatnya.

 

John Silaban (JS): Aku pribadi juga bangga dengan mereka. Melihat semangat ibu-ibu dan mudi-mudi yang tak kalah tangguh berjuang. Srikandi-srikandi serikat buruh itu sangat banyak kontribusinya buat gerakan ini. Mereka lebih dewasa dalam memandang sustansi kenapa terlibat dalam perjuangan. Mereka tak berkutat pada perbedaan saya laki-laki dan anda perempuan. Tapi kita dileburkan oleh satu nasib yang sama, satu perjuangan yang sama, melawan kapitalisme.

 

Aku (A) : Oia, Lek… Satu lagi soal GODAM… Apa sih yang ada di benak kau dan kawan-kawan, Lek… Sampai terpikir membuat barisan pasukan GODAM ?

 

Lek Jhon membakar rokok keduanya.

 

John Silaban (JS)  : Ide itu dulu hasil diskusi dengan kawan-kawan SPKAJ dan GESBURI. Melihat semakin beringasnya kekuatan modal menindas kaum buruh, kita harus membuat barisan kaum buruh yang disiplin, terorganisir, memahami filsafat perjuangan kelas sebagai senjata, sehingga bisa mencetak pemimpin-pemimpin kelas buruh. GODAM bukanlah satgas atau tim keamanan serikat, bukan itu. Tapi GODAM adalah para pimpinan-pimpinan yang lahir dari gerakan buruh, mempunyai disiplin baja, fisik dan mental yang kuat, kemampuan analisa dan strategi, serta terorganisasi dalam satu barisan kolektif. Mereka yang akan menjadi pelopor dan teladan, sebagai barisan yang akan menunjukkan seperti apa kepemimpinan dan kekuatan kelas buruh itu.

Hari-hari esok, kita akan terus dihadapkan pada situasi bertarung dengan kekuatan modal. Semuanya harus kita persiapkan sekarang, tak ada waktu untuk menunda-nunda atau berkeluh kesah.

Semangat dan api perlawanan tak boleh padam !

 

Aku (A)  : Ahhh…. Kalo gitu, maulah aku, Lek.. Ikut pelatihan GODAM.. Hehe

 

John Silaban (JS)  : Kau belajar lagi yang serius, nanti kalo ada kesempatan pelatihan lagi, ikut aja prakondisinya dulu….

Bangunkan anak-anak, kita sarapan nasi uduk dulu….

 

Aku (A)  : Siap Sek-Jhon !!!!!

 

Aku bangkit dan bergegas membangunkan yang lain. Ah, masih ada yang ingin aku diskusikan. Ku tengok ke belakang, namun bayangan Lek Jhon telah menghilang di balik larutnya pagi. Salut buat semangat dan api perlawanan yang terus membara, Lek Jhon.

 

Tambun, 2 Desember 2014

Penulis: Nuy

One thought on “Wawancara Imajiner dengan Jhon Silaban : “SEMANGAT DAN API PERLAWANAN YANG TAK PERNAH PADAM”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s