FPBI: BURUH TOLAK PHK MASSAL DIHAJAR POLISI

Sejak pagi hingga sore tadi (3/12) di depan PT Srirejeki Perdana Steel (PT SPS). Ratusan buruh yang tergabung di Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) kembali merebut haknya yang dirampas pengusaha. Tapi ironisnya, bukan hak dipekerjakan kembali justru buruh dihadapkan dengan arogansi kepolisian yang secara paksa membubarkan dengan tindak kekerasan dan tembakan gas airmata secara terus-menerus kepada para buruh pabrik. Bahkan berdasarkan pantauan tim investigasi FPBI, para polisi juga terus melakukan pengejaran, pemukulan terhadap buruh sehingga banyak mengalami luka-luka, memar dikepala akibat pukulan polisi, bahkan ada yang mengalami luka bocor dikepala akibat terkena tembakan selongsong peluru gas air mata.

Selain buruh, warga disekitar perusahaan juga imbas asap gas air mata sehingga banyak yang mengeluh karena mata perih, “Polisi sungguh tidak memiliki perasaan sama sekali, buruh yang di PHK massa itu hanya ingin bekerja kembali kenapa harus mendapatkan perlakukan seperti binatang,” sesal Sudrajat, warga disekitar kawasan Murinda Cikarang yang berdekatan dengan pabrik manufaktur baja yang memproduksi steel tube pipe dan coil center itu.

 Santoso Widodo Ketua Umum FPBI menegaskan, Padahal dalam diantara buruh dan perusahaan pernah menghasilkan Perjanjian Bersama (PB) yang salah satu isinya masing-masing pihak menjalankan hak dan kewajibannya yaitu, “Pekerja kembali bekerja dan pengusaha membayar upahnya sesuai UU Ketenagakerjaan,” papar Santoso. Ditambahkanya, “Sejak Senin kemarin, buruh mau bekerja tapi pihak pengusaha menolak atau melarang buruhnya untuk bekerja. Justru perusahaan memasukkan tenaga kerja outsourcing untuk mengerjakan semua bagian inti produksi” ini jelas merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan yang dipimpin oleh Yati. Dalam kontek itulah yang mendorong buruh menagih janji manajemen agar tetap dipekerjakan kembali tetapi perusahaan tetap melakukan PHK massa terhadap 260 buruh. Tegas, Santoso.

Ditempat terpisah, Ganto Almansyah SH anggota tim Advokasi FPBI menegaskan “Bahwa rentetan kejadian yang dialami buruh PT SPS, mulai dari PHK massal dan peristiwa kekerasan polisi kepada mereka, tentu saja adalah tindakan sistematik pengusaha yang dibekingi polisi dalam meredam perjuangan kaum buruh. Kami memandang tindakan itu sebagai union busting pada serikat-serikat yang teguh dalam perjuangan hak kaum buruh.” Tegasnya. (K-YSR)

 CP: 0856 9502 6593 (Santoso Widoso)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s