Kronologis kedatangan Kapolres Tapanuli Selatan di lokasi pembakaran rumah-rumah masyarakat Desa Tobing Tinggi, Kec. Aek Nabara Barumun, Selasa 29 Mei 2012

Jam 10.00 Wib.

Tiba-tiba masyarakat melihat rombongan mobil Estrada sebanyak + 13 unit. Masyarakat mengira itu adalah mobil milik PT SRL. Sebab mobil itu dikenali oleh masyarakat yang biasa digunakan memasuki lahan masyarakat dan turut memimpin pengrusakan lahan dan tanaman. Bahkan beberapa mobil dikenali oleh masyarakat ada dilahan masyarakat saat terjadi pembakaran rumah-rumah masyarakat pada tanggal 25 Mi 2012.

Masyarakat mengira akan terjadi pembakaran lagi, tetapi dilihat juga polisi ada dilahan lokasi tempat rumah-rumah yang dibakar. Karena ketakutan beberapa orang menghindar dan memberitahukan hal ini kemasyarakat yang lainnya. Lalu masyarakat berembuk membahas hal ini, karena DPRD-juga akan dating kelokasi masyarakat korban pembakaran pamswakarsa, maka masyarakat memutuskan untuk menunggu anggota DPRD itu hadir ke tengah-tengah masyarakat terlebih dahulu, baru akan disikapi bersama.

Jam 11.00 wib

US Simanjuntak sedang memetik cabe diladangnya, karena melihat banyak polisi dan orang-orang yang tidak dikenal, karena trauma dengan kejadian pembakaran rumah-rumah pada tanggal 25 mei 2012, maka US Simanjuntak menghindar dan pulang. Saat meletakkan cabe tiba-tiba  AIPTU. A. Ginting merangkul dari belakang dan mendekap US Simanjuntak. Dan mengatakan

AIPTU A. Ginting: “kenapa kau lari…? Jangan lari… jangan takut. Kamu tidak diapa-apain.”

AIPTU. A. Ginting menyeret US Simanjuntak ke rumah H. Simanjuntak (abang US Simanjuntak) berpapasan dengan Kasat Intel (bermarga Sihombing) Aiptu. A. Ginting berbicara:

AIPTU A. Ginting: “inilah tuantanahnya disini……” “kenapa kau kerjai tanah ini…!!!!” pernyataan ini diarahkan kepada US. S bicara sama bekerja di ladang. Karena dipanggil,  dan selaimanjuntak.

Sesampai dirumah H. Simanjuntak, AIPTU A. Ginting menyerahkan US. Simanjuntak kepada Kapolres Tapanuli Selatan (AKBP. Subandria). Begitu diserahkan kepada Kapolres, Kapolres langsung bilang kepada US. Simanjuntak:

Kapolres: “kamu pekerja Situmorang ya….? Berapa kamu digaji…!!! Dua juta…? Tiga juta…?”

US. Simanjuntak: “bukan…..saya disini pemilik tanah ini.”

Kapolres: “Kalau kau pemilik tanah…..darimana kau mendapat tanah…? Dari Situmorang yak au membeli tanah ini?”

US Simanjuntak:”bukan… saya nggak tahu sejarah tanah ini dulunya.”

Kapolres: “surat tanahmu ada,,,,? Kalau ini betul-betul tanahmu.”

US Simanjuntak: “ada…suratnya akta.”

Kapolres: “jadi…..dari siapa kau dapatkan tanah ini..??”

US Simanjuntak: “kalau itu saya nggak tahu….dulu yang membeli abang saya.”

Kapolres: “jadi abangmu sekarang dimana…?????”

US Simanjuntak: “dikampung”

Kapolres: “dimana kampungnya?”

US Simanjuntak: “Kisaran.”

Kapolres: “Kisaran dimana..?

US Simanjuntak: “di Airbatu.”

Kapolres: “nggak bisa kau hubungi dia..?

US Simanjuntak:”nggak bisa.”

Tiba-tiba seseorang Polisi menyela pembicaraan dan menyerahkan HP milik US Simanjuntak kepada Kapolres. US Simanjuntak kaget…kok tiba-tiba HP itu sudah ada ditangan Polisi. Padahal HP itu terletak dikamar US Simanjuntak. Polisi yang menyerahkan HP US Simanjuntak ke Kapolres sambil bicara:

Polisi yang menyerahkan HP ke Polres: “inikan ada HP-mu…masak nggak ada nomor abangmu kau simpan..??!!!!”

US Simanjuntak: “nggak ada saya simpan nomor abangku”

Kapolres: “kau sudah ada KTP sini?!!!! Kau bisa dituduh teroris disini kalau nggak lengkap data-datamu”

Tiba-tiba datang seorang Polisi menyerahkan dompet milik US Simanjuntak. Kembali US Simanjuntak terkaget-kaget, karena dompet itu sebelumnya ditaruh di kamar rumahnya. Sambil menyerahkan dompet….seorang Polisi yang tidak diketahui namanya bicara:

Polisi yang menyerahkan dompet: “ini dompetnya…..mungkin disini ada data-data dia”

selanjutnya Kapolres membuka isi dompet US Simanjuntak dan mengeluarkan seluruh isinya. Dan Kasat Intel Polres Tapsel memeriksa STNK, SIM, KTP dan surat-surat lainnya. Selanjutnya Kapolres bertanya kembali kepada US Simanjuntak.

Kapolres: ”dimana rumahmu?”

US Simanjuntak: “disana pak” US Simanjuntak sambil menunjukan rumahnya.

Kapolres: “coba ayo kita kerumahmu, biar diperiksa dulu rumahmu”

Dan selanjutnya AIPTU A. Gintung merangkul dan menyeret US. Simanjuntak,sementara dibelakang, disamping kanan dan kiri US Simanjuntak   senjata laras panjang diarahkan  kepada US Simanjuntak sementara polisi-polisi lain memfoto. Kejadian itu. US Simanjuntak diseret kerumahnya yg berjarak kurang lebih 100 meter dari rumah H Simanjuntak.

Sesampai dirumah US Simanjuntak membuka pintu depan rumahnya dan ternyata pintu dapur sudah terbuka dan pintu rusak karena telah dibuka secara paksa. Polisi memeriksa seluruh rumah dan sebagian dari pintu depan, dan sebagian masuk dari pintu belakang.

Polisi tak dikenal: “Siapa kawanmu disini!!!”

US Simanjuntak: “saya sendiri disini”

Polisi tak dikenal: “masak kamu sendiri disini..?? jangan-jangan kamu menyimpan teroris disini”

Kasat Intel Polres Tapsel: “Surat kamu itu palsu itu….”

US Simanjuntak: “masak surat akta bisa palsu..? itu kan yang mengeluarkan kan camat….kok bisa palsu?”

Kasat Intel Polres Tapsel: “itu semua mafia tanah itu”

US Simanjuntak: “yang mafia tanah itu siapa?” karena Kasat intel diem….maka US Sihombing langsung bicara “ setahu saya yang Mafia itu RGM….karena terus-terus mengganggu kami, dilahan kami selama ini.”

Kasat Intel Polres Simanjuntak: “lihat saja nanti…..kalau kebun kamu inni sudah berhasil…datang yang asli pemilik tanah ini merebutnya.”

Jam 11.30 Wib

Tiba-tiba dating R. Hutasoit (ketua Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri) bersama Bpk Karen Sinaga, Siburian Simare-mare, Ray Siburian ke rumah US Simanjuntak. Dan langsung bilang kepada Polisi yang ada ditempat US Simanjuntak. Dan R. Hutasoit langsung berbicara:

R. Hutasoit: “apa-apan ini pak…?” “ada apa pak, ada yang bias saya bantu?”

Begitu R. Hutasoit datang, semua Polisi berhamburan keluar dari rumah US Simanjuntak. Dan selanjutnya mengelilingi R. Hutasoit.

Salah seorang anggota kepolisian: “ bapak siapa?”

Hutasoit: “saya marga hutasoit, salah satu warga anggota Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri”

Salah seorang anggota kepolisian: “begini pak, bisa bapak ikut dengan kami…?

Hutasoit: “kemana pak?’

Salah seorang anggota kepolisian:” kesana pak, disana Kapolres sudah ada, Kapolrres, Kapolsek, Camat, dan kepala desa” (yang dimaksud polisi kerumah Simanjuntak)

Saat perjalan  menuju kerumah Simanjuntak, Hutasoit ketemu dengan Kapolsek Binanga (AKP Syahnur Siregar) sambil terus melanjutkan perjalanan. Dan begitu sampai dirumah Simanujuntak, ternyata memang Kapolres, Camat, Kepala Desa, dan Kadis Kehutanan Padang Lawas, dan puluhan anggota Polisi dan TNI sdh berada dirumah Simanjuntak.

Sambil menjabat tangan Kapolres, Hutasoit memulai pembicaraan:

Hutasoit: “selamat siang pak”

Kapolres: “ bapak siapa?”

Hutasoit: “Saya marga Hutasoit salah satu warga Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri”

Kapolres: “apakah Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri ini telah memiliki ijin resmi ?”

Hutasoit: “Tidak

Kapolres: “berarti Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri ini tidak jelas? Berapa tanah Lae Hutasoit?”

Hutasoit: “6 Hektar pak”

Kapolres: “Begini lae Hutasoit, kedatangan kami kesini bersama camat, Kepala Desa, Kadis Kehutanan dan satuan dari Koramil. Pengen langsung terjun kelapangan untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Apakah masyarakat disini telah memiliki legalitas kependudukan dan legalitas tanah? Darimana kalian membeli tanah  ini? Dan berapa lama lae tinggal disini? Agar masyarakat tidak terpropokasi dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab”

Hutasoit: “ saya bisa bicara pak?”

Kapolres: “silahkan”

Hutasoit: “pada dasarnya saya kemari baru empat tahun, dan orang tua saya membeli ini dari putra daerah. Setelah tanah ini dibeli orang tua saya, saya baru hijrah kemari.sebenarnya perlu diketahui pak….menurut analisa saya, inilah pokok permasalahan tumpang tindih tanah yang disebabkan oleh pemerintah. Mengapa demikian pak…..semua masing-masing pihak memiliki yang syah menurut hokum”

Kapolsek: “ nah justru karena ini lae…..bagaimana menyelesaikan masalah ini, bila perlu dibetonkan. Kalaupun masyarakat belum mempunyai KTP, segera diurus. Bukan begitu pak Camat…?” sambil mengarah ke Camat Aek Nabara Barumun.

Selanjutnya Camat Aek Nabara Barumun berbicara:

Camat: “memang saya baru disini pak,  ajukan kampung ini layak menjadi desa atau anak desa.”

setelah dialog dengan Kapolres, hutasoit ditanya oleh salah seorang Polisi yang bersama Kapolres.

Salah seorang Polisi: “ dimana rumah bapak?”

Hutasoit: “dekat pak….kurang lebih 800 atau 600 meter dari sini.”

Kapolres: “ maksud saya pak….bapak saya ajak ke kantin bapak Sihombing untuk mensosialisasikan…..dan member pemahaman kepada masyarakat.”

Hutasoit: “ maaf pak…..bukannya saya tidak mau. Tadinya saya mau menjemput istri saya yang sedang memanen cabe. Maklumlah pak….beginilah cara masyarkat kami mempertahankan hidup. Tetapi adik saya ini saja yang menuntun” Hutasoit sambil menunjuk Ray Siburian untuk mengarahkan jalan  rombongan Kapolres menuju warung Sihombing.

Kapolres: “mana duluan sampai nanti…? Lae atau kami?

Hutasoit: “saya yang duluan sampai pak, supaya saya bisa mensosialisasikan kedatangan bapak ke masyarakat.”

Kapolres: “ya nggak apa-apa.”

Selanjutnya Hutasoit dari rumah Simanjuntak, pulang menjemput istrinya. Sementara rombongan Kapolres dipandu Ray Siburian meninggalkan lokasi rumah Simanjuntak, dengan tujuan menuju warung Sihombing.

Ray Siburian ikut naik mobil kanit reskrim (marga Butar-butar) untuk menuju ke warung Sihombing. Tetapi ternyata rombongan malah menuju ke Kantor PT. SRL di daerah Garingging. untuk makan siang. Waktu kira-kira menunjukan pukul 12.00 Wib saat nyampai kantor PT. SRL. Saat itu Kapolres tampak berbicara sambil tertawa-tawa dengan para rombongan dan PT. SRL.

Jam 12.30 Wib

Rombongan Kapolres setelah makan siang langsung menuju ke warung Sihombing.

Jam 13.30 wib

Rombongan Kapolres sampai Warung Sihombing (saat itu masyarakat sudah berkumpul)

Begitu sampai diwarung Sihombing, camat membuka pembicaraan dan dilanjutkan langsung oleh Kapolres.

Kapolres: “bapak-bapak ibu-ibu….kami datang kesini dengan tujuan untuk menciptakan ketertiban dan keamanan. Jangan dianggap Polisi dibayar perusahaan. Mengenai pembakaran…saya akan cari siapa yang membakar…..dan saya akan mencari juga siapa yang membacoki serta yang melakukan pengrusakan. ,Jadi saya minta masyarakat untuk menciptakan situasi tertib dan aman. Jangan ada propokator, kalau ada…akan saya tangkap. anggota saya banyak,  Siapapun yang salah akan saya seret ke kantor polisi. masyarakat maupun perusahaan kalau bersalah akan kami proses. Jadi jangan membesar-besarkan masalah. Ini masalah si Aruan…ada yang bilang diculik. Inikan dibesar-besarkan. Dia itu diamankan, lalu saya ambil dan saya kasih makan. Diapain sama orang SRL? Dia tidak diapa-apain. Kalau ditangkap poengertiannya lain. Kalau diculik pengertiannya lain. Ini diamankan kan dilepaskan…kalau diculik itu ya diambil dan tidak diapa-apain. Ini dibesar-besarkan. Apakah masyarakat disini ada KTP….? Kalau gak punya KTP segera diurus. Jangan kalian nanti dianggap teroris.”

Lalu R. Hutasoit langsung menyela pembicaraan:

R. Hutasoit:”masyarakat disini punya KTP pak…..contohnya ini KTP saya”

Dan KTP langsung ditunjukan kepada KAPOLRES dan Camat…. Begitu ditunjukan KTP, Kapolres dan Camat terlihat kaget, selanjutnya KTP R Hutasoit dilihat secara bergilir. Dan Kapolres langsung berbicara lagi

Kapolres: “loh apa bener ini dikeluarkan pemerintah…?”

Camat: “yah memang  KTP pak Hutasoit ini KTP disini pak. KTP padang Lawas”

Lalu datang Kapolsek….”nah kalau begini kan bagus….biar masyarakat tidak dikatakan liar..”

Catatan:

  1. Polisi datang ke lokasi lahan menggunakan Mobil Perusahaan (PT. SRL) sebanyak + 15 unit mobil dan beberapa mobil dikenali masyarakat ada ditempat kejadian pembakaran rumah-rumah termasu 1 unit mobil anti kebakaran hutan dan lahan.
  2. Polisi justru makan-makan diperusahaan yang diindikasikan memerintahkan Pamswakarsa membakar rumah-rumah masyarakat dan tanaman masyarakat.
  3. Kedatangan Pores justru menyebabkan ketakutan masyarakat.
  4. Polisi mendobrak rumah US Simanjuntak yang menyebapkan ketakutan dan merasa diperlakukan orang jahat
  5. Polisi justru melakukan penghakiman terhadap status tanah yang disengketakan dan menyatakan tanah akta tanah tidak syah yang itu bukan wewenangnya.

Apakah itu peninjauan lapangan korban pembakaran…?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s