KONTRA DOKUMEN ATAS HASIL REKOMENDASI NASIONAL SUMMIT 2009

“Sebuah tugas yang berat tapi suci, sekarang dipikulkan di atas bahu setiap orang Indonesia untuk memerdekakan 55 juta jiwa dari perbudakan yang beratus-ratus tahun lamanya, dan memimpin mereka ke pintu gerbang hidup baru.”
(Tan Malaka 1926)

Sedikit Otokritik Harus Diakui Bahwa Gerakan Rakyat Waktu itu sedikit Melakukan “Pembiaran Sikap Politik” terhadap agenda yang di selengarakan oleh Pemerintah Nasional SBY-Boediono dan Para Pemodal ternyata lebih memilih dan menata struktur ekonomi Indonesia Supaya ON THE TRACK pada dinamika Pasar Bebas yang berbasis pada Model Kapitalisme Rampok yang di modernkan

Dua Asumsi Utama Agenda National Summit:

PERTAMA :

Dorongan Dari Kaum Modal Internasional Yang menginginkan Indonesia sebagai pasar yang potensial di kawasan ASEAN dengan jumlah penduduk 240 Juta Jiwa Lebih dan Kekayaan Alam Yang melimpah ruah. Supaya Lebih Terbuka terhadap arus dan proyek liberalisasi Ekonomi (KOMODITAS dan JASA) FTA, AFTA, Rekomendasi WTO, DOHA ROUND DLL.

KEDUA :

Memantapkan VISI dan MISI SBY-BOEDIONO (15 Program Nasional) —— National Summit 2009 —- Investor Summit 2009 —— Prolegnas dan RPJM. Itulah Kira2 Urutanya. Dan Perlu dicatat bahwa Tindakan Pembangunan Ekonomi Nasional 2009-2014, yang di jadikan Rujukan Utama Penataan Kebijakan Nasional Adalah Hasil-Hasil Rekomendasi National SUMMIT (ROADMAP PEMBANGUNAN NASIONAL 2009-2014)

INILAH ALURNYA

Mengapa Rekomendasi National Summit Harus Di Tolak?….

PERTAMA:

Massa Rakyat (Kaum Buruh, Petani tak Bertanah, Miskin Perkotaan, Nelayan) Tidak Dilibatkan Secara Penuh Sebagai Subyek Aktif yang berdiri sejajar dalam penyusunan Rekomendasi Dalam Bentuk Roadmap Pembangunan Nasional 2009, Padahal hasil-hasilnya dipaksakan sebagai sebuah kebijakan ekonomi politik nasional yang harus diterima oleh seluruh lapisan massa rakyat di indonesia mau tidak mau, suka tidak suka

KEDUA:

PERSATUAN PERJUANGAN INDONESIA, secara tegas pernah menyatakan dalam Dokument DRAFT ANALISA terhadap HASIL NATIONAL SUMMIT Yang Terbit pada 1 Desember 2009 “Nasional Summit Adalah Arah dan Skema Kapitalisme Rampok yang Bertumpu pada Struktur Moneter dan Kebijakan Investasi yang Super LIBERAL, atas nama Proyek Infrastruktur Untuk Kemakmuran Rakyat, Padahal Tujuan utamanya tidak lain Tetap sebagai ladang sekaligus Pasar yang Potensial, Artinya ada skenario tersembunyi bahwa proyek Infrastruktur di Indonesia adalah Sekoci bagi Penyelamatan Kapitalisme Internasional yang saat ini sedang Tergerus Krisis.

KETIGA:

Selama 4, 5 Tahun Kedepan, Semua Kebijakan dan Tindakan Rezim Pro Modal yang saat ini berkuasa di dukung semua elit poltik hasil Pemilu 2009 akan sangat nyata di Berbagai Bidang Kehidupan Sosial, Ekonomi, Hukum, Kebuyaan, Keamanan dll, semua akan selalu ON THE TRACK Untuk Kepentingan dan Selara Pasar. Jadi kalau ada tindakan – tindakan epoleksosbud dan pertahanan, yang dilakukan oleh negara seperti, Penembakan petani, PHK massal, Pengusuran lahan Rakyat, kriminalisasi aktifis sosial, pemasungan kebebasan rakyat untuk berserikat, pencabutan subsidi, penjualan aset-aset vital milik negara kepada swasta, percepatan liberalisasi (Kawasan ekonomi Khusus), penyusunan UU dan Peraturan lainya untuk memastikan dan melindungi proses investasi, Peningkatan Jumlah Hutang Negara, dll. Itu semua adalah efek domino yang dilahirkan dari NATIONAL SUMMIT 2009.

Sesunguhnya bisa dilihat bahwa tumpuan ekonomi di indoensia masih mengandalkan Investasi dalam berbabgai bentuk. Kelonggaran-kelongaran dalam kebijakan bidang moneter dan fiscal dibuat sedemikian rupa untuk mengakomodir kemauan para pemodal besar. Struktur politik dan pemerintahan nasional yang efisien alias/Pro Modal, juga merupakan syarat yang diinginkan untuk tumbuh berkembangnya arus investasi. Padahal kalau dilihat bahwa sesungguhnya investasi dari kaum modal itu sama halnya “menjual Kedaulatan ekonomi nasional dan rakyat”, karena model investasi yang paling digemari pemodal adalah bermain di pasar saham, obligasi, SUN, SBI dan lain-lain dengan jumlah yang tak terkira dibandingkan melakukan investasi di sector riil.

Rendahnya suku bunga acuan para Investor Kelas Kakap yakni The Federal Reserve (The Fed) yang hanya sebesar nol hingga 0,25% memicu investor asing untuk melepas dolar dan mengalihkan investasinya ke obligasi Indonesia. Sehingga terjadi peningkatan kepemilikan asing dalam Surat Utang Negara (SUN). Menyorot Satu segi Investasi di SUN (Surat Utang Negara) Pada Oktober 2009, pembelian Surat Utang Negara (SUN) oleh investor asing naik 300% dari Rp 2,1 triliun di September 2009 menjadi Rp 8,4 triliun di Oktober 2009. Dengan demikian secara keseluruhan, posisi asing di SBN pada Oktober 2009 tercatat sebesar Rp100,9 triliun. mengapa hal ini terjadi karena kebijakan moneter di Indoenesia adalah yang paling liberal sedunia. Tentu saja kondisi ini bisa mengakibatkan rentanya pondasi eknonomi nasional yang dampak kongkritnya sama dengan Pemiskinan

Adakah Dampak ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA)?

Indonesia menegaskan tetap ikut memenuhi komitmen terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China mulai 1 Januari 2010 meski masih ada tekanan terhadap beberapa sektor industri. Indonesia akan melayangkan surat resmi kepada China untuk menyampaikan bahwa ada beberapa subsektor usaha yang terkena dampak negatif oleh perjanjian perdagangan bebas (FTA) itu.

Dengan Tanpa Menegasikan Bidang –Bidang lainya saya hendak menyoroti 2 Bidang saja, yakni:

Bidang Keuangan dan Pajak

Berdasarkan Laporan Kompas 17 Des 2009, Negara Tiap tahun rata-rata berpontensi Kehilangan Pemasukan sebesar 15 Trillyun Rupiah. Akibat penurunan bea masuk barang import antara 5 % – 0%, bayangkan jika ini terus berlangsung tiap tahun maka. Struktur Moneter dan Fiskal Indonesia yang memang rapuh, akan menjadi hancur berantakan dan jelas mengakibatkan efek domino dalam dinamika ekonomi riill

Di Bidang Industri dan Perburuhan

Ada 2.500 subsektor industri yang diikutsertakan dalam FTA ASEAN- China tentu saja ini menjadi ancaman serius Industri Manufaktur Dalam Negeri (Sepuluh produk Industri yang terancam itu adalah tekstil, baja, makanan dan minuman, produk peternakan, petrokimia, alat-alat pertanian, alas kaki, sintetik fiber, elektronik kabel dan peralatan listrik, industri permesinan, jasa enginering serta besi dan baja.), sehingga kedepan DEINDUSTRIALISASI dan Penghancuran Tenaga Produktif NASIONAL semakin tidak terbendung lagi, dan satu lagi yang pasti defisit perdagangan yang semakin lebar . Pada periode 2004-2008, jelasnya, neraca perdagangan tumbuh negatif dengan rata pertumbuhan -17,96% di mana sektor manufaktur berkontribusi paling besar terhadap defisit tersebut dengan pertumbuhan -11,69%.

Maka kedepan Jika Impian dalam Road Map itu membangun Industri nasional yang kuat dan tangguh itu hanya OMONG KOSONG KAUM BORJUIS “BROKER” YANG PASIFIS. Yang terjadi adalah semaki n meneguhkan bahwa Indonesia adalah Negara NET IMPORTIR yang POTENSIAL dalam Posisi ACFTA. Secara Otomatis Pula yang paling terpukul sebagai Akibat kongkrit ACFTA tidak lain kaum buruh yang antri dalam daftar PHK massal. Data Resmi PPI menyatakan Ada sekitar 90 Juta Jiwa Rakyat Indonesia hidup dengan kondisi di bawah garis kemiskinan. Tentu saja jumlah ini akan terus bertambah besar. Jika, TATA PERDAGANGAN tetap tunduk dalam skema LIBERALISASI.

Memperjelas Peta Ekonomi Dunia di Sektor energi, Perbankan, Infrastruktur, Komunikasi telah dikuasai Oleh Perusahaan –perusahaan Raksasa dari China (Lihat: The Economist, Edisi 1 Agustus hal: 78)

Apa Yang Harus Kita Lakukan Sebagai Massa Rakyat ???………
(Marilah Kita Diskusikan Bersama)…..

Salam Hangat
Jakarta, 19 Desember 2009
Kent Yusriansyah

One thought on “KONTRA DOKUMEN ATAS HASIL REKOMENDASI NASIONAL SUMMIT 2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s