Krisis Kapitalisme, Tidak Berhenti Cari Tumbal

PHK Terus Terjadi, 2.000 Pekerja di Sumsel Terkena PHK dan Dirumahkan.

Palembang , Kompas – Dampak krisis global terus meminta korban pemutusan hubungan kerja kalangan buruh di beberapa daerah. Di Sumatera Selatan, misalnya, sejak pertengahan 2008 hingga awal 2009, buruh yang dirumahkan atau dikenai pemutusan hubungan kerja mencapai 2.000 orang.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah jauh lebih besar sebelumnya dilaporkan terjadi di Jawa Barat. Di provinsi itu sejak November 2008 sudah lebih dari 20.000 orang kehilangan pekerjaan. Di Jawa Tengah, 3.441 buruh dari 31 perusahaan juga terkena PHK sepanjang 2008.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Selatan Ahmad Rizal kepada wartawan, Jumat (9/1) di Palembang, mengatakan, dari 2.000 buruh tersebut sekitar 90 persen di antaranya berstatus dirumahkan. Sisanya sudah terkena PHK.

”Awal 2009 ini, kami kembali menerima laporan dari PT Musi Plasindo, yang telah merumahkan lebih dari 30 karyawan berstatus buruh harian lepas. Kasus ini sedang ditangani secara tripartit,” kata Ahmad Rizal.

Awal Desember 2008, buruh di Sumsel yang statusnya dirumahkan dan dikenai PHK tercatat 1.000 orang. Pada awal 2009 ini, jumlahnya meningkat menjadi 2.000 orang.

Tidak melapor

Ahmad Rizal mengingatkan, jumlah itu barulah data yang dilaporkan secara resmi ke Kantor Kadin Sumsel. ”Jika dilihat secara riil di lapangan, diperkirakan lebih banyak. Apalagi, banyak perusahaan yang tidak berani melapor jika melakukan PHK atau merumahkan karyawan,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Nazaruddin Latief mengemukakan, pencari kerja di Sumsel pada akhir 2008 mencapai 3,4 juta orang. Jumlah ini bertambah sebesar 17.701 orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Koordinator Wilayah Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Suwarto, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat, mengingatkan, perusahaan yang melakukan PHK kepada para pekerjanya akibat terpaan krisis global, seharusnya tidak secara sepihak. Sebelum adanya PHK, pihak perusahaan perlu membicarakan terlebih dahulu dengan pekerja.

”Agar pekerja juga mengetahui bahwa kondisi perusahaan memang benar-benar tidak mampu. Krisis global jangan hanya dijadikan alasan untuk mem-PHK pekerja,” ujar Suwarto, menanggapi PHK di Jateng pada 2008.

Oleh karena itu, Suwarto mengimbau para pekerja untuk turut mengawasi pelaksanaan PHK yang ditempuh pihak perusahaan. (oni/gre/ilo/kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s