Petinggi Grup Bakrie Dicekal

Sebagian besar petinggi perusahaan tambang milik Grup Bakrie.

 

JAKARTA—Direktorat Jenderal Imigrasi mencekal taipan Edwin Soeryadjaya dan para petinggi perusahaan tambang Grup Bakrie karena dinilai lalai membayar utang royalti ke negara. 

“Pencekalan dilakukan atas permintaan Menteri Keuangan,” ujar Direktur Penyidikan dan Penindakan Direktorat Imigrasi Departemen Hukum Syaiful Rahman di kantornya kemarin.

Surat keputusan Menteri Keuangan dikeluarkan dalam tiga periode, yaitu 28 juli, 1 Agustus, dan 5 Agustus 2008. Berdasarkan itu, pihak Imigrasi mengeluarkan larangan bepergian ke luar negeri selama enam bulan hingga 27 Januari 2009.

Ada 14 nama dari enam perusahaan yang masuk daftar cekal Imigrasi. Sepuluh di antaranya berasal dari PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia—dua perusahaan tambang batu bara milik Grup Bakrie di bawah payung PT Bumi Resources Tbk. 

Sisanya, dua perusahaan batu bara lainnya: PT Adaro Indonesia milik Edwin dan PT Berau Coal milik keluarga Risjad. Turut dicekal petinggi dua perusahaan pembiayaan.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto menyatakan pencekalan dilakukan agar perusahaan-perusaha an itu segera membayar utangnya ke negara. “Kami cekal mereka agar kooperatif dan mau membayar,” katanya kepada Tempo kemarin. Setelah utang dilunasi, cekal pun akan dicabut. 

Adapun total piutang negara dalam bentuk royalti yang harus dibayarkan perusahaan-perusaha an batu bara itu sekitar Rp 3 triliun. Tagihan itu, kata Hadiyanto, telah dilimpahkan ke Panitia Urusan Piutang Negara sejak setahun lalu. Tapi hingga kini belum ada tanda-tanda akan dilunasi. “Kalau begitu kan harus meningkat penagihannya ke level yang lebih tinggi,” ujarnya. “Lebih memaksa.”

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati belum bisa dimintai keterangan lebih jauh soal ini karena sedang di Australia. Namun, dalam pesan pendeknya kepada Tempo, ia menjelaskan tunggakan perusahaan batu bara itu merupakan utang royalti. “Sebagai penerimaan negara bukan pajak, “katanya.

Ini berarti masalah yang kini dihadapi Kaltim Prima dan Adaro berbeda dengan persoalan pajak yang juga melilitnya beberapa waktu lalu. Seperti pernah diberitakan, Direktorat Jenderal Pajak juga meminta kedua perusahaan ini membayar kekurangan setoran pajak. “Baru Adaro yang sudah membayar,” kata sumber di Direktorat Pajak.

Direktur Keuangan Bumi Resources Eddie J. Soebari tak mau mengomentari pencekalan atas dirinya. “Saya baru dengar kabar itu” ujarnya. Rosan P. Roeslani juga mengaku belum mengetahui putusan itu. Yang jelas, kata dia, ia tak lagi menjabat komisaris di Kaltim Prima sejak awal 2007. “Ini jelas salah alamat.”

Protes keras dilontarkan bekas Presiden Direktur PT Berau Coal Jeffrey Mulyono, yang mengaku sudah pensiun sejak pertengahan 2005. “Menteri Keuangan bodoh dan sembrono karena tidak mengecek ulang,” tuturnya. Karena itu, ia kemarin melayangkan surat protes ke Menteri Keuangan dan Menteri Energi. CHETA NILAWATY | GUNANTO ES | ARI ASTRI YUNITA

Sandungan Terbaru Bakrie
Raksasa tambang batu bara milik Grup Bakrie tak pernah sepi dari masalah. Belum usai kisruh penghentian operasi PT Kaltim Prima Coal oleh Bupati Kutai Timur, kini para petinggi perusahaan itu bersama PT Arutmin Indonesia kena cekal pihak Imigrasi––keduanya di bawah payung PT Bumi Resources Tbk.

Tapi Bakrie tak sendiri. Empat perusahaan lainnya, termasuk PT Adaro Indonesia milik Edwin Soeryadjaya, bernasib serupa. Gara-garanya, mereka dianggap lalai membayar tunggakan royalti ke negara. Inilah daftar mereka yang kena cekal:

KALTIM PRIMA COAL

  1. Nalinkant A. Rathod (Presiden Komisaris)
  2. Abdullah Popo Parulian (Komisaris)
  3. Ari Saptari Hudaya (Presiden Direktur)
  4. Kenneth Patrick Farrel (Direktur)
  5. Hanibal S. Anwar (Direktur)
  6. Rosan Perkasa Roeslani (Komisaris)

Tunggakan royalti: US$ 127,1 juta.

PT ARUTMIN INDONESIA

  1. Kazuya Tanaka (Direktur)
  2. Endang Rukhiyat (Direktur)
  3. Perry Purbaya Wahyu (Direktur)
  4. Eddie Junianto Soebari (Direktur)

Tunggakan royalti: US$ 75,4 juta.

PT ADARO INDONESIA TBK
Edwin Soeryadjaya (Presiden Komisaris)
Tunggakan royalti: Rp 144,8 miliar dan US$ 93,5 juta.

PT BERAU COAL
Jeffrey Mulyono (Presiden Direktur)
Piutang: Rp 312,7 miliar dan US$ 26,1 juta

PT LIBERA UTAMA INTIWOOD
Mualin Kantono(penjamin pribadi)

CITRADWIPA FINANCE
Hendra Tjoa (Direktur Utama).

DUA JAWARA BATU BARA

  1. PT BUMI RESOURCES TBK
    Total produksi : 51,6 juta ton
    Ekspor: 47,2 juta ton
    Pengendali: Grup Bakrie
    Unit usaha: PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia
  2. PT ADARO INDONESIA TBK
    Total produksi: 36,1 juta ton
    Ekspor: 24,1 juta ton
    Pengendali: Garibaldi Thohir, Edwin Soeryadjaya, Subianto, T.P. Rachmat, Thomas Lembong

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s