Nasionalisasi Perusahaan Minyak Raksasa, Musuh Rakyat Dan Planet Ini

Dick Nichols

Kenaikan harga di tempat (spot price) bagi minyak mentah saat ini (menjadi US$ 139 per barel – 87,4 sen per liter) mendramatisir kebutuhan mendesak masyarakat untuk membiasakan diri lepas dari “emas hitam”. Semakin lama kita bergantung padanya semakin besar perusakan terhadap lingkungan hidup kita dan standard hidup jutaan orang, terutama rakyat termiskin di planet ini.

Tantangannya sangat besar. Responnya harus mengkombinasikan perjuangan menentang ancaman terhadap hajat hidup akibat kenaikan harga-harga, dengan suatu rencana untuk merestrukturisasi ekonomi dan gaya hidup kita sehingga produksi dan transportasi yang padat-minyak (oil-intensive) menjadi sesuatu di masa lampau.

Banyak komentator pro-pasar – dan tak sedikit pula aktivis lingkungan hidup – menyambut kenaikan harga minyak akhir-akhir ini (yang berarti harga riilnya telah membumbung sebesar 400% dalam enam tahun terakhir, lebih besar dari krisis minyak tahun 1970an) sebagai hal yang membawa kita lebih dekat kepada tujuan-tujuan tersebut. Mereka mencerca “populisme murahan” dari Koalisi yang mengusulkan potongan pajak petrol sebesar lima sen dan skema FuelWatch pemerintah Rudd.*

Editor ekonomi The Financial Review, Alan Mitchell mengatakan: “Yang seharusnya pemimpin kita katakan kepada rakyat yang memilihnya adalah bahwa harga petrol tidak kemana-mana selain ke atas, dan bahwa mereka harus memperhitungkan itu ketika mereka akan membeli mobil baru mereka dan membuat keputusan berikutnya tentang di mana mereka akan bertempat tinggal.”

Dan bagaimana dengan bermilyar-milyar konsumen bahan bakar fosil yang tidak memfokuskan hidupnya untuk mengganti kendaraan 4WD-nya yang haus bensin menjadi Toyota Prius? Bisakah kaum miskin kota di Jakarta bereaksi terhadap rencana pemerintah Indonesia menaikkan harga BBM sebesar 29,7% dengan beralih ke panel surya? Bagaimana nelayan-nelayan Yorkshire yang tagihan bahan bakar mingguannya melejit dari $4.000 (1 AUD kira-kira setara dengan Rp. 8.800,-) menjadi lebih dari $9.000 dalam waktu setahun merespon “tanda-tanda harga” ini?

Apa yang harus dilakukan dengan kenaikan sebesar $700 per tahun dalam rata-rata anggaran pengeluaran keluarga Australia akibat dari kenaikan harga petrol baru-baru ini?

Mempertahankan standar kehidupan

Tantangan terdepan yang dihadirkan oleh kenaikan harga minyak adalah bagaimana menghentikan upaya-upaya untuk meletakkan beban krisis di pundak rakyat pekerja dan rakyat miskin. Tapi upaya mempertahankan hajat hidup rakyat juga penting dalam memastikan bahwa peralihan dari ketergantungan energi bahan bakar fosil akan mendapatkan dukungan sosial massa yang dibutuhkan bila peralihan tersebut akan benar-benar terjadi

Di sini aktivis pembela lingkungan hidup yang berpendapat bahwa kenaikan harga minyak perlu disambut dengan baik karena menyebabkan peralihan (yang masih kecil) menuju mobil disel dan hybrida dan transportasi publik, melakukan kesalahan yang berbahaya. Bila gerakan melawan pemanasan global tidak mengusulkan tawaran solusi tersendiri terhadap penderitaan akibat kenaikan harga minyak, maka mereka menyerahkan hal tersebut kepada Brendan Nelsons** dan bahkan para politikus penipu yang lebih buruk dan anti-lingkungan.

Ambilah, sebagai tanda peringatan, kekalahan walikota London Ken Livingston saat pemilihan, yang dengan niat terbaik di dunia memperkenalkan biaya parkir di bagian dalam kota, tapi tanpa memperbaiki transportasi publik secara layak untuk mengurangi ketergantungan rakyat terhadap mobil dan bensin.

Di sini, pentinglah mencamkan bahwa tidaklah benar dalam waktu dekat ini harga jual eceran bensin “tidak ke mana-mana selain ke atas”. Dan itu bukan karena kenaikan harga minyak terakhir ini mengandung gelembung spekulasi besar yang akan pecah cepat atau lambat.

Tapi karena terdapat perbedaan besar antara biaya ekstraksi minyak mentah dan harga eceran akhir petrol. Di antara kedua hal itu terdapat profit perusahaan minyak, pembeli borongan (wholesalers) yang sering juga dari perusahaan yang sama, pengapalan dan pajak-pajak pemerintah.

Dimulai dari biaya ekstraksi minyak. Menurut Bank Kuwait minyak mentah pada $100 per barel memberikan tingkat profit yang astronomikal sebagai berikut, yang didasarkan pada biaya produksi untuk satu liter (yang dicantumkan dalam kurung): Kuwait 488% (11 sen); Uni Emirat Arab 300% (16 sen); Arab saudi dan Qatar 233% (19 sen); pasir minyak Kanada 203% (21 sen); dan Bahrain dan Oman 150% (25 sen).

Pada mata rantai berikutnya terdapat penyulingan (refining). Menurut laporan Komisi Konsumen dan Kompetisi Australia, pada Desember 2008 “penyulingan besar telah mendirikan oligopoly yang nyaman” yang melakukan “kebijakan menetapkan harga petrol hasil penyulingan lokal berdasarkan produk sebanding yang diimpor, bukannya biaya sesungguhnya dari penyulingan domestik atau bahkan biaya import yang sesungguhnya.”

ACCC mengkalkulasikan bahwa ketika petrol tak-bertimah (unleaded) diecer seharga 121,6 sen per liter pada 2007, “harga impor bandingannya” (import parity price) adalah 56,1 sen; marjin penyuling 3,7 sen; marjin pemborong 8,1 sen; pajak pemerintah (pajak petroleum dan pajak barang-layanan (GST) eceran dan borongan) 49,2 persen dan marjin pengecer 4,4 persen.

Angka-angka ini mematahkan klaim Kevin Rudd bahwa pemerintah federal telah melakukan segalanya “yang secara fisik dimungkinkan” untuk menahan kenaikan harga minyak. Suatu pemerintah yang peduli untuk menangani dampak lonjakan tersebut dapat:

# Menetapkan harga eceran maksimum dan menyesuaikan tingkat pajak bahan bakar dan pajak konsumsi yang sejalan dengan itu (saat ini sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Itali, Spanyol dan Perancis).

# Menetapkan batas gerakan harga eceran dan berbagai marjin (penyuling, pemborong dan pengecer). Pada Juni 2008, marjin penyuling di Australia loncat menjadi 12 sen, sehingga memprovokasi penyelidikan ACCC. Regulasi menurut garis-garis ini telah diperkenalkan di Belgia dan saat ini sedang didorong oleh Blok Kiri dalam parlemen Portugis. Menurut juru bicara merangkap ahli ekonomi Blok Kiri, Francisco Louca, aturan-aturan sederhana anti-spekulasi seperti ini dapat memotong harga di pompa bensin antara 10 hingga 14 sen per liter.

Nasionalisasi perusahaan minyak

Walau demikian, dalam dunia saat ini di mana biaya ekstraksi minyak meningkat dalam jangka panjang, kebijakan-kebijakan semacam ini hanya akan memberikan keringanan sementara dikarenakan selalu adanya kemungkinan kekurangan persediaan dalam jangka panjang, dan selama industri tersebut tetap didorong oleh profit dan berada di tangan swasta. Untuk dengan serius menangani dampak harga minyak terhadap standar kehidupan akan diperlukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak besar (di Australia, Shell, Mobil, Caltex, dan BP).

Ini bukan saja satu-satunya jalan untuk mengetahui catatan keuangan sesungguhnya perusahaan-perusahaan tersebut (yang ACCC sendiri tak pernah yakin pernah memperolehnya). Nasionalisasi perusahaan minyak besar juga penting dalam melaksanakan program kesinambungan energi (energy sustainability) yang akan menghapuskan ketergantungan terhadap minyak langsung ke intinya.

Gerakan menentang pemanasan global perlu memperjuangkan nasionalisasi perusahaan minyak besar untuk alasan yang sama dengan perjuangannya melawan privatisasi pembangkit listrik padat-karbon (carbon-intensive) di New South Wales – tanpa kepemilikan publik yang dapat mengatur produksi energi secara efektif, hilanglah kapasitas untuk merencanakan transisi yang cepat menuju teknologi sumber daya yang dapat diperbaharui.

Ia juga merupakan kerangka kerja satu-satunya di mana harga yang tepat bagi produk-produk berbasis minyak dapat ditetapkan – tidak terlalu rendah sehingga menghilangkan insentif untuk mengurangi konsumsi, dan juga tidak terlalu tinggi sehingga menghancurkan hajat hidup buruh, keluarga petani, wiraswastawan dan mereka yang memperoleh tunjangan kesejahteraan.***

Pada November 2006, harga minyak mentah dunia adalah 38 sen per liter dan harga eceran berkisar dari tiga sen seliter di Venezuela (i.e. termasuk subsidi 35 sen per liter) hingga 186 sen per liter di Islandia (dengan tingkat pajak BBM tertinggi di dunia).

Pada 21 Januari, 2008, Presiden Venezuela Hugo Chavez menyatakan kepada penonton program TV mingguannya Alo Presidente bahwa harga petrol jauh terlalu murah. “Kita belum pernah menyentuh harga petrol selama delapan tahun. Sangat tidak layak menjual petrol seperti yang kita lakukan ini, lebih baik itu diberikan saja.”

Kasus kita di Australia adalah kebalikannya. Menghadapi pemerintah Rudd yang berketetapan untuk praktis tak melakukan apa-apa terhadap lonjakan harga petrol dan pangan, gerakan buruh harus menuntut kompensasi penuh terhadap peningkatan biaya hidup yang disebabkannya.

Memang, lonjakan harga minyak merupakan pengingat yang kuat tentang kebutuhan indeksasi secara penuh terhadap upah dan pembayaran tunjangan kesejahteraan, posisi yang tak boleh ditinggalkan oleh gerakan serikat buruh. Dengan ekonomi dunia menghadapi prospek “stagflasi” (meningkatnya pengangguran dan inflasi) seperti tahun 1970an dan bank sentral mengambil langkah yang mengakibatkan rakyat pekerja — terutama mereka yang harus membayar cicilan pinjaman — menanggung beban kontrol tingkat harga, gerakan serikat buruh Australia tidak dapat membela rakyat pekerja bila mereka mempertahankan dukungannya terhadap rejim penargetan tingkat inflasi (inflation targeting regime) oleh Bank Sentral.

Hanya ada satu solusi terhadap krisis harga minyak: serikat buruh dan gerakan lingkungan hidup harus berjuang bahu membahu melawan kehancuran yang dilakukan oleh kaum Shell dan kaum Exxon terhadap planet kita dan kehidupan penghuninya.

———————-

* Ini mengacu pada perdebatan di parlemen Australia tentang bagaimana merespon kenaikkan harga minyak. Koalisi, yang terdiri dari partai-partai oposisi (Nasional dan Liberal), menawarkan pemotongan pajak petrol sebesar lima sen, sementara Partai Buruh Australia yang berkuasa mengusulkan FuelWatch, yakni suatu website yang menginformasikan konsumen di SPBU mana dijual minyak termurah. Di Australia, harga di tiap SPBU bervariasi dan dioperasikan oleh perusahaan swasta yang berbeda-beda.
** Pemimpin Oposisi di parlemen Australia, berasal dari Partai Liberal Australia
*** Tunjangan sosial yang diberikan pemerintah terhadap penduduk miskin atau tak mampu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s