Ongkos Naik, Beban Petani Makin Bertambah

rigasi Harus Segera Diperbaiki

Rabu, 4 Juni 2008 | 11:55 WIBKarawang, Kompas – Beban petani bertambah dengan naiknya biaya sejumlah komponen produksi padi sebesar 5-20 persen pascakenaikan harga bahan bakar minyak. Selain meminta jaminan harga jual gabah, petani juga berharap pemerintah memperbaiki infrastruktur pertanian yang rusak.

Dario (50), petani di Mekarjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Selasa (3/6), mengatakan, ongkos traktor, tanam, pestisida, dan kuli cenderung naik setelah harga bahan bakar minyak (BBM) naik. Adapun harga benih dan pupuk masih relatif sama.

Selain di Mekarjati, di beberapa desa di Kecamatan Jatisari dan Banyusari, Karawang, tarif olah lahan naik dari Rp 450.000 hektar (ha) pada musim lalu menjadi Rp 500.000 per ha musim ini. Ongkos itu mencakup sewa traktor, bahan bakar solar, dan tenaga pengolah. Pemilik traktor menaikkan tarif olah lahan karena naiknya ongkos perawatan traktor, tenaga kerja, dan semakin sulitnya memperoleh bahan bakar.

Di beberapa desa di Karawang, naiknya ongkos traktor bahkan terjadi beberapa hari menjelang kenaikan harga BBM. Sebab, pemilik traktor kesulitan memperoleh solar akibat larangan pembelian BBM di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) dengan menggunakan jeriken.

Ongkos tanam borongan naik dari Rp 350.000-Rp 400.000 menjadi Rp 450.000-Rp 500.000 per ha. Adapun harga pestisida naik bervariasi, yaitu 5-15 persen. Pemilik kios sarana produksi pertanian terpaksa menaikkan harga jual pestisida karena naiknya biaya transportasi.

“Harga pupuk tidak naik karena ada ketentuan tentang harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah, tetapi pestisida beda. Saya beli pestisida kemarin, harganya sudah naik,” kata Udung (42), petani di Desa Cirangkong, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta.

Meskipun demikian, kondisi itu tidak terjadi di seluruh daerah di Karawang. Menurut Ijam Sujana, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Karawang, karakteristik satu desa dan desa lainnya berbeda. Di Kecamatan Tempuran, misalnya, pemilik traktor belum menaikkan ongkos olah lahan karena tarif yang berlaku saat ini dinilai masih layak. Demikian juga dengan ongkos tanam dan tenaga kerja. Perbaikan irigasi

Dengan kecenderungan naiknya ongkos produksi tersebut, petani berharap pemerintah menjamin harga jual gabah. Petani masih khawatir harga gabah anjlok saat panen raya tiba meskipun harga pembelian pemerintah telah dinaikkan.

Hal lain yang perlu segera dilakukan adalah perbaikan infrastruktur pertanian, terutama irigasi. Buruknya kondisi irigasi turut melemahkan semangat petani untuk menanam padi. Dengan semakin tingginya ongkos produksi saat ini, air mutlak tersedia untuk menjamin panen petani aman.

Ukar (30), petani di Desa Campakasari, Kecamatan Campaka, Purwakarta, mengatakan, sebagian petani di desanya memilih menganggurkan sawah saat musim gadu karena beberapa kali gagal panen. Sawah irigasi mereka mengering karena kekurangan air sebelum masa panen tiba.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Karawang Didy Sarbini HS menambahkan, dengan kecenderungan naiknya ongkos produksi saat ini, petani bisa mengurangi pengeluarannya dengan menghemat penggunaan pupuk. Langkah itu dinilai paling realistis dilakukan karena kini dosis pemupukan petani masih berlebih.

Didy mencontohkan penggu-naan urea. Idealnya area persawahan Karawang membutuhkan sekitar 450 kilogram (kg) urea per ha atau kurang dari itu. Namun, sebagian petani memberikan pupuk 500-600 kg per ha. Padahal, dengan mengurangi dosis sebanyak 100-150 kg, petani bisa menghemat Rp 120.000-Rp 180.000 per musim. Upaya lain adalah memerhatikan penanganan pascapanen. (MKN)

One thought on “Ongkos Naik, Beban Petani Makin Bertambah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s