Kontrak Bagi Hasil Migas Rugikan Pemerintah

[ JAKARTA ] Dalam beberapa kontrak bagi hasil minyak dan gas (migas) selama ini, sering kali Pemerintah Indonesia rela kehilangan bagiannya hanya untuk menarik investor. Seperti kasus kontrak bagi hasil dengan Exxon Mobil di Blok Natuna D Alpha dengan pola bagi hasil Indonesia nol persen, Exxon 100 persen.

Kasus lainnya adalah pada Blok A Aceh. Pemerintah telah menyetujui usulan kontraktor untuk perubahan pembagian hasil antara pemerintah dan kontraktor dari 65:35 menjadi 51:49. Padahal, standardisasi pola bagi hasil yang ditetapkan adalah 85:15 untuk minyak dan gas 70:30.

Hal itu dikritik oleh para ekonom, yang menganggap pemerintah melakukan berbagai kesalahan. Akibatnya, kekayaan migas Indonesia terlalu didominasi oleh perusahaan minyak asing.

“Pembagian 65:35 di Blok A Aceh adalah kesalahan besar. Seharusnya, dipatok 85:15 agar Indonesia untung,” kata ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance Indonesia (Indef) Imam Sugema kepada SP, Minggu (4/5), di Jakarta.

Hal senada juga dikatakan, ekonom dari Bank Mandiri, Martin Panggabean. Dia menyesalkan kebijakan yang menguras kekayaan migas Indonesia itu, yang terlalu didominasi oleh perusahaan minyak asing. ” Indonesia tidak diuntungkan dengan kontrak bagi hasil masa kepemimpinan Orde Baru. Seharusnya, ada renegoisasi kontrak kerja sama dengan perusahaan asing,” katanya.

Pemerintah lanjut Martin, harus tegas pada para kontraktor asing dalam kontrak pembagian hasil produksi. “Tidak seharusnya kontraktor mendapat persentase bagi hasil yang besar,” kata Martin.

Saat ini, 80 persen produksi minyak nasional berasal dari kontraktor perusahaan asing dan 20 persen dari perusahaan nasional. Indonesia mengandalkan produksi dari 10 dari 55 kontraktor, yaitu Chevron Pasific Indonesia (CPI), PT Pertamina EP, ConocoPhilips SNSB, Inpex, China Nasional Offshore Oil Corporation (CNOOC), Total Indonesie, Medco EP Rimai, BP, BOB CPP, dan Pertamina Hulu- PPI/JOA-JOB.

Sebelumnya, Kepala BP Migas yang baru, R. Priyono kepada SP seusai pelantikan dirinya, Selasa (29/4) menyatakan, renegoisasi kontrak tidak menjadi agenda kepemimpinannya. “Kami harus menghormati kontrak yang telah ada,” ujar Priyono.

Transparan

Sementara itu, Pantoro Kuswardono dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan pengamat perminyakan, Kurtubi mengatakan, perlunya transparansi pada kontrak bagi hasil agar semua pihak dapat mengontrol dan menghindari terjadinya penyelewengan.

Kontrak bagi hasil produksi (contract production sharing) dianggap sebagai rahasia negara. Ada 150 lebih blok minyak di Indonesia dengan karakteristik kontrak bagi hasil yang bervariasi. “Seharusnya, ada transparansi sehingga kita bisa tahu apa yang harus diperbaiki dari kontrak tersebut,” katanya.

Kurtubi pun mengatakan hal yang sama. Dia menegaskan, Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), yang bertindak sebagai pengendalian dan pengawasan produksi migas nasional, harus terbuka terkait dengan kontrak kerja sama dengan kontraktor termasuk dalam hasil produksi, kontrak bagi hasil dan biaya-biaya operasional dan investasi (cost recovery).

Kurtubi mengkritik kinerja BP Migas yang tidak bagus. Dikatakan, cost recovery tidak dikontrol secara efektif oleh BP Migas sehingga membengkak luar biasa, sementara produksi migas anjlok.

Ketidakberesan pengelolaan BP Migas, terbukti dari hasil audit BPK dan BPKP atas laporan keuangan BP Migas pada 2006, yang mengungkapkan adanya kerugian negara sebesar US$ 2,3 miliar.

” Ada pengeluaran yang bukan biaya operasional dimasukkan ke cost recovery, seperti sumbangan untuk tsunami dan sumbangan pembangunan sekolah-sekolah internasional. Seharusnya, sumbangan itu ditanggung oleh perusahaan kontraktor migas tersebut,” paparnya. [DLS/N-6]

Sumber ; Suara Pembaharuan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s