1 MEI, BERSATU BERGERAK

Tidak terasa, sudah dua tahun semenjak demonstrasi besar-besaran kaum buruh Indonesia di seluruh kota-kota Industri menolak rencana revisi UU 13/2003 yang di ajukan oleh Pemerintah dan DPR- dimana intinya adalah melapangkan jalan bagi penjajahan modal-.Pada tahun 2006 tersebut, kaum buruh Indonesia telah menunjukan kekuatannya yang sungguh dasyat, bukan hanya karena jumlah massa yang terlibat dalam demonstrasi mencapai jutaan buruh di seluruh Indonesia, baik anggota SPSI,SPN,ABM,SPMI,TSK semuanya bahu membahu mengatasi ancaman  ancaman baik oleh aparatus Pemerintah yang kadang menggunakan preman- maupun oleh Pengusaha, hingga kaum buruh Indonesia tetap bisa bergerak memaksa Pemerintah dan DPR untuk mundur, mengaku kalah dihadapan kekuatan kaum buruh Indonesia, menghentikan rencana revisi UU 13/2003

Ironisnya, dalam hal yang lain, pemerintah dan DPR tetap nekat, keras kepala. Sistem kerja outsourcing, sistem kerja kontrak di terapkan di mana-mana, menghilangkan kepastian kerja bagi jutaan kaum buruh Indonesia-juga bagi calon buruh Indonesia- Saat ini telah jatuh jutaan korban kaum buruh, yang dikontrak selama 1 tahun kemudian diputus , bahkan ada yang hanya 1 minggu, juga ada yang menjadi pekerja harian lepas. Sistem kerja Outsourching dan kontrak juga telah menghilangkan sebagian besar ”kesejahteraan” yang sudah di dapat selama ini; Upah semakin kecil, Tunjangan Kesehatan dihilangkan, Tunjangan Tranportasi, Uang Makan dan lain sebagainya. Saat ini, jutaan buruh yang masih berstatus kerja tetap, tinggal menunggu waktu menjadi buruh kontrak.

Pada saat yang bersamaan, Pemerintah dan DPR juga tetap melakukan upah yang sangat kecil bagi buruh Indonesia. Ketetapan mengenai Upah Minimum Propinsi/Kota, selalu jauh dari mencukupi kebutuhan hidup buruh Indonesia secara layak, secara manusiawi. Buruh Indonesia diperlakukan sebagai mesin, yang diberikan seadanya agar bisa terus bekerja,terus menghasilkan keuntungan bagi pengusaha; Buruh Indonesia tidak perlu sehat, tidak perlu pintar, tidak perlu istirahat yang cukup, tidak perlu rumah yang sehat.

Apa yang salah? Kenapa Pemerintah dan DPR yang dipilih oleh rakyat-juga oleh kaum buruh-tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan kaum buruh,malah sebaliknya justru semakin memiskinkan kaum buruh Indonesia. Jawabnya ternyata sederhana, pemerintah dan DPR juga semua Partai Politik dan Elit-elit politik- adalah antek-antek Pemodal/Pengusaha baik pemodal asing maupun pemodal dalam negeri. Kebijakan Outsourching, buruh kontrak, upah murah hingga kenaikan harga kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan yang mahal, semata-mata dilakukan agar para Pemodal/Pengusaha bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tidak sulit untuk membuktikan bahwa Pemerintah, DPR, Semua Partai Politik Besar Peserta Pemilu 2004 maupun yang akan ikut pemilu 2009 adalah antek Pemodal, antek Penjajah.

Bukti Pertama : Seluruh Pertambangan Bangsa Indonesia-Minyak, Gas, Batu Bara, Emas, Nikel dan lain sebagainya- yang seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh dan rakyat Indonesia, justru di jual ke pihak Asing, sehingga keuntungan yang sedemikian besarnya dari Industri Pertambangan saat ini, dibawa lari ke luar negeri ( Amerika, Eropa, Jepang, Cina, Australia dan lain sebaginya- dan agar seolah-olah penjulan Aset ini bukan kejahatan besar, Pemerintah,DPR, Partai Politik Borjuis membuatkan Undang-Undangnya, yang tahun kemarin baru saja di sahkan, yaitu UU Penanaman Modal, yang sepenuhnya untuk kepentingan pemodal, dan mengabaikan kaum buruh dan rakyat Indonesia.

Bukti Kedua : Kaum Buruh Indonesia, yang merupakan tenaga penggerak utama ekonomi, bukannya di sejahterakan, di lindungi melainkan justru diperas, dihisap. Siapapun tahu, bahwa kebijakan Outsourching dan buruh kontrak, upah murah adalah untuk melipatgandakan keuntungan para pemodal. Sangat Bodoh, jika ada yang mengatakan bahwa kebijakan tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh Indonesia. Inilah yang oleh Bung Karno di sebut sebagi Neo kolonialisme, Neo Imperialisme (NEKOLIM), atau yang biasa kita sebut sebagai PENJAJAHAN BENTUK BARU, PENJAHAHAN MODAL, yang masuk dengan jebakan HUTANG LUAR NEGERI, sehingga apapun yang dikendaki oleh terutama Modal Asing, selalu di penuhi oleh PEMERINTAH, DPR dan PARPOL yang PENGECUT.

Bukti Ketiga : Setiap perlawanan kaum buruh dan rakyat Indonesia, selalu di hadapi dengan perangkat hukum yang mengekang, dijadikan sebagai penjahat/criminal. Bahkan sangat sering dengan cara-cara yang tidak beradab. Diancam,dipukul, ditangkap bukan saja oleh aparat namun juga menggunakan preman yang dibeking oleh aparat dan pengusaha. Pemerintah, DPR dan Partai-Partai Politik Borjuis, juga membiarkan para pemodal yang menghambat kaum buruh Indonesia membangun organisasinya,membangun serikatnya. Sudah banyak kasus-kasus penghancuran serikat buruh oleh pengusaha yang di dukung negara. Sudah banyak aktifis-aktifis buruh yang di PHK bahkan di kriminalkan karena membangun serikat buruh.

Bukti Keempat : Partai-partai politik yang berkuasa sekarang-yang menyusun komposisi pemerintah dan DPR-semuanya didominasi oleh para pemodal, baik proses pembuatannya, pimpinannya maupun sember dananya. Tidak ada satupun partai politik penguasa yang lahir dari kekuatan kaum buruh dan rakyat Indonesia, sehingga wajar semua kebijakan negara mengabdi pada modal, yang berarti menindas kaum buruh dan rakyat Indonesia.

Dalam situasi yang seperti itu, dimana tidak ada satupun kekuatan politik pengusa yang berpihak pada kepentingan kaum buruh, kekuatan kaum buruh Indonesia juga belum berhasil bersatu kembali seperti dua tahun yang lalu, belum menunjukan keperkasaannya dalam bentuk mobilisasi-mobilisasi massa yang menyatu. Kaum buruh Indonesia masih banyak yang bergerak sendiri-sendiri, masih banyak yang bergerak di tingkat lokal, dengan bendera masing-masing, demikian juga kekuatan rakyat yang lain, masih tercerai berai, sehingga penguasa yang sudah jelas antek pemodal, sudah jelas menindas kaum buruh dan rakyat Indonesia, belum berhasil dipatahkan dominasinya, belum berhasil digantikan oleh pemerintahan baru, yang berasal dari kekuatan kaum buruh dan rakyat Indonesia, untuk kepentingan kaum buruh dan rakyat Indonesia.

Menyadari situasi itu, maka Aliansi Buruh Menggugat bersama dengan beberapa serikat buruh/serikat pekerja menggagas pembangunan persatuan kaum buruh yang luas dan besar. Dimulai dari pertemuan di Cisarua, Bogor pada bulan desember tahun 2007, ABM bersama dengan SPMI, SPSI Reformasi, SPSI KEP, SPSI LEM, SPN, SP TSK dan beberapa serikat lainnya mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh para pimpinan puncak masing-masing serikat, yang kemudian dilanjutkan dengan banyak pertemuan lainnya, baik di SPSI KEP maupun SPMI-pada pertemuan ini, pimpinan SPN tidak lagi terlibat, dan ada tambahan dari beberapa serikat lain- akhirnya bisa menyepakati beberapa hal antara lain, melakukan aksi massa serentak pada tanggal 20 februari 2008 di 6 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Tangerang, Kota Bekasi, Kab Bekasi dan Karawang. Juga di sepakati, bahwa tanggal 1 MEI 2008, akan dilakukan aksi bersama, bahkan untuk memastikan agar seruan tiap pimpinan serikat buruh/pekerja ini, telah membuat seruan bersama yang ditandatangani oleh ABM (diwakili oleh Satro dan Ilham dari BPN ABM), FSPMI (di wakili oleh Said Iqbal dan Vonny sebagai Presiden dan Sekjend), SPSI KEP(diwakili oleh R.Abdullah), SPSI Reformasi (ditandatangani oleh Indra Munaswar atas nama Mohammad Rodja), FSPTSK ( diwakili oleh Indra Munaswar sebagai Sekjend), FSPPAR Ref( di wakili oleh Kemal Idrus), PPMI 98( di wakili oleh Munawardi atas nama Abdul Hakim) dan FBTN(diwakili oleh Toto Budiman).

Harapannya adalah pada tanggal 1 MEI nanti, semua kekuatan buruh yang pada tahun 2006 lalu berhasil memaksa mundur Pemerintah dan DPR, dapat kembali lagi bersatu, mengepung Istana Negara, untuk memaksa Pemerintah, DPR dan seluruh kekuatan Partai Politik Elit, menghapuskan sistem kerja kontrak, sistem kerja outsourcing, menaikan upah dan menerapkan standarisasi upah nasional yang layak serta menurunkan harga kebutuhan pokok.

Karena bagi ABM, 1 MEI bukanlah hari untuk bersenang-senang dalam panggung-panggung dangdut, bukanlah hari di mana kaum buruh harus merenungi nasib, bukanlah hari dimana kaum buruh tinggal di rumah karena libur atau di pabrik untuk bekerja, tapi 1 MEI bagi ABM adalah hari di mana seluruh kekuatan kaum buruh harus keluar ke jalan-jalan, menghentikan mesin-mesin pabrik, keluar dari kontrakan-kontrakan kumuh, bersama dengan rakyat miskin yang lain, untuk mengetarkan pusat-pusat kekuasaan, menuntut segala persoalan yang di akibatkan oleh Penjajahan Bentuk Baru/Penjajahan Modal dan antek-anteknya.

1 MEI dalam sejarahnya, adalah hari di mana jutaan buruh di berbagai negara pada satu abad yang lalu, bersama-sama melakukan pemogokan massal, melakukan demonstrasi dan mengepung pusat-pusat kekuasaan untuk memaksa pemerintah dan pemodal di seluruh dunia, memberlakukan 8 jam kerja yang sebelumnya bisa mencapai 16 jam kerja bahkan 20 jam kerja. 8 jam kerja inilah yang sekarang kita rasakan sebagai buah perjuangan kaum buruh di seluruh dunia, sehingga 1 MEI nanti, kita sebagai kaum buruh Indonesia akan kembali turun ke jalan, menghentikan roda-roda produksi, dan mengepung Istana Negara, sebab kita belum sejahtera, sebab mereka menindas kita

1 MEI, HARI BURUH SEDUNIA
BERSATU BERGERAK KEPUNG ISTANA !!!
HAPUSKAN SISTEM KERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING
NAIKKAN UPAH
BERLAKUKAN UPAH LAYAK SECARA NASIONAL
TURUNKAN HARGA KEBUTUHAN POKOK RAKYAT

One thought on “1 MEI, BERSATU BERGERAK

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s