Penggusuran Pedagang Barito Semakin Nyata

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali akan menggusur pedagang kaki lima. Ratusan kios dan ribuan pedagang di taman Ayodya, Barito, Jakarta Selatan terancam digusur pada 17 Januari mendatang. Selain akan menghancurkan hak perekonomian pedagang, relokasi yang akan di tempatkan di pasar Inpres Radio Dalam tersebut bisa mengundang konflik horizontal.

Isu penggusuran tersebut sudah beredar 2 tahun lalu. Pada akhir 2007, para pedagang mencoba meminta kejelasan kepada Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Sarwo Handayani. “Dia bilang, tempat itu akan direfungsi kembali sebagai taman, karena Jakarta membutuhkan ruang terbuka hijau dan paru-paru kota,” ujar Cahya Suparno, kepala pedagang Barito, ketika ditemui di kios bunga miliknya, Barito, Jakarta Jumat (11/1).

Nasib pedagang sendiri, menurut Handayani berada di bawah dinas UKM. Ketika bertanya kepada dinas UKM, pedagang justru tidak mendapatkan jawaban perihal nasib mereka. Beberapa saat kemudian Kepala Dinas Pertamanan DKI mengatakan bahwa para pedagang akan dipindah ke pasar Inpres Radio Dalam. Setelah pedagang melihat lokasi, ternyata kios di pasar Inpres hanya berukuran 2×2 meter. “Ini sangat tidak logis, padahal papan untuk bunga saja bisa berukuran 2.5 m. Ini yang kami lawan, karena hak perekonomian kita yang dihilangkan.” tambah Cahya Suparno, kepala pedagang Barito

Cahya menilai, alasan pemindahan pedagang bunga dan ikan hias di Taman Ayodya, tidak dibarengi dengan kajian yang matang. Selain ukurannya yang tidak masuk akal, pemindahan tersebut juga berpotensi menimbulkan konflik horizontal. Pasar Inpres Radio Dalam yang sempat terbakar itu, saat ini masih dihuni oleh pedagang tradisional, dengan sewa Rp 6 – 7 juta per meternya.

“Mereka sudah bilang langkahi dulu mayat kami jika pedagang barito akan masuk. Karena pernyataan walikota, kami diberikan secara gratis sementara pedagang lama harus bayar 6-7 juta per meter perseginya.” Kata Cahya Suparno.

Setelah terus mendesak ke beberapa pihak, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, meresponnya dengan mendisposisikan kepada Walikota, dan Walikota kembali mendisposisikan kepada wakilnya. “17 Desember lalu, akhirnya ada audiensi di taman Langsat. Kita berpikir ada dialog untuk mencari solusi, ternyata hanya jadi ajang pendapat dan akan disampaikan ke Gubernur.” Jelas Cahya Suparno.

Hari Senin (6/7) kemarin pedagang justru menerima surat yang berisikan perintah pembongkaran. Jika dalam 7 x 24 jam sejak dilayangkannya SP I dan pedagang tidak pergi, akan berlaku SP II selama 3 x 24 jam, dan SP III selama 1×24 jam. “Jika tidak pindah juga maka 17 Januari kami dihajar.”

Pedangang meminta kepada Pemda untuk menunda penggusuran dan berdialog mencari solusi terbaik. Menurut Cahya, pedagang tidak keberatan jika taman Ayodya dikembangkan sebagai fungsi ekologis, tapi harus berjalan seiring dengan fungsi sosial dan ekonoimi. “Kita sudah katakan konsep itu, bahkan jika pemda tidak punya dana, akan kita upayakan sendiri dananya.”

Diketahui, para para pedagang di taman Ayodya berjumlah 108 kios yang menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja. Dari aktifitas di area seluas 8000 meter persegi tersebut, hampir 5.000 orang terpenuhi kebutuhan sehari-harnya. Mereka sudah berdagang di tempat tersebut sejak 1970-an.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s