KAPITAL II

Pada Kajian Kapital bagian pertama, saya coba mengulas mengenai pengertian Marx
tentang Kapitalisme. Pada bagian ini, saya mau membicarakan soal Kapital (Capital).

Kamus bahasa Inggris – Indonesia, karangan John M. Echols dan Hassan Shadily, menulis capital berarti modal, atau sekadar kapital. Terjemahan kapital sebagai modal ini begitu populer sehingga, kita menemukan kata “modal sosial” sebagai terjemahan dari “capital social,” atau “modal politik” dari “capital politics.” Menariknya, mahakarya Marx berjudul “Capital” tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Modal.”

Apa sebenarnya yang dimaksud Marx dengan kosakata Kapital, yang bertaburan di hampir seluruh buku-buku dan surat-surat yang ditulisnya? Menurut Marx, Kapital adalah bahan-bahan baku, instrumen kerja, dan seluruh jenis alat-alat subsisten, yang digunakan untuk memproduksi bahan-bahan baku yang baru, instrumen kerja yang baru, dan alat-alat subsisten yang juga baru. Menariknya, Marx mengatakan, seluruh komponen itu adalah bagian kapital yang dihasilkan melalui kerja, produk dari kerja, atau hasil dari kerja yang terakumulasi. Kerja yang terakumulasi sebagai alat-alat produksi baru ini, kemudian disebutnya sebagai kapital.

Kapital melahirkan kapital? Membingungkan? Sabar. Di bagian lain, Marx mengatakan, kapital bukanlah alat-alat produksi semata. Lebih dari itu, kapital adalah alat-alat produksi yang digunakan dalam hubungan kapitalis dan buruh. Kapital bukanlah sebuah benda, ujar Marx, melainkan sebuah hubungan produksi sosial yang menentukan formasi sejarah masyarakat, yang mengejawantah dalam wujud benda dan menjadikan benda tersebut memiliki karakter sosial tertentu.

Marx memberikan penjelasan agak panjang soal ini. Katanya, dalam produksi, manusia tidak hanya bertindak terhadap alam tapi, ia bertindak bersama manusia lainnya. Mereka hanya bisa berproduksi melalui kerjasama, dan dalam kondisi tertentu, mereka mempertukarkan aktivitasnya secara saling menguntungkan. Guna bisa berproduksi, mereka terkait dan terhubung satu sama lain dan hanya dalam kaitan dan hubungan sosial itulah, tindakan mereka terhadap alam, atau aktivitas produksinya terealisir.

Di sini, hubungan sosial yang terjadi di antara individu yang berproduksi, hubungan sosial produksi, mengalami perubahan, bertransformasi, dengan cara mengubah dan mengembangkan alat-alat produksi material, tenaga produktif. Hubungan produksi dalam keseluruhan totalitas ini menghasilkan apa yang disebut hubungan sosial, masyarakat, dan lebih khusus lagi, sebuah masyarakat dalam tahapan perkembangan sejarah tertentu, sebuah masyarakat yang unik, yang memiliki karakter yang berbeda. Masyarakat kuno, masyarakat feodal, masyarakat borjuis, merupakan totalitas hubungan produksi itu, yang pada saat bersamaan ditandai oleh tahapan perkembangan yang khusus dalam sejarah umat manusia.

Kapital, demikian Marx, merupakan sebuah hubungan produksi sosial. Ia adalah hubungan produksi borjuis, sebuah hubungan produksi masyarakat borjuis. Di sini, Marx sangat menekankan tentang penyatuan antara faktor-faktor sosiologis (hubungan sosial), dan faktor-faktor ekonomi (harga relatif, pembagian pendapatan antara upah dan keuntungan, dan proses-proses akumulasi). Itulah sebabnya, menurut Howard & King, mengapa Marx menolak definisi kapital yang diajukan oleh teori ortodox yang mendefinisikan kapital secara sederhana sebagai benda itu sendiri, benda yang memproduksi alat-alat produksi. Misalnya, kapital diartikan sebagai sekadar uang, manusia, atau sebatas faktor-faktor produksi.

Jika bukan sekadar alat-alat produksi lalu apa? Dalam bahasa yang lain, jika kapital bukan sekadar alat-alat subsistens, instrumen kerja, atau bahan-bahan baku yang membentuk kapital, hasil produksi dan akumulasi di bawah kondisi-kondisi sosial hubungan produksi tertentu, lantas apa?

Marx terus melangkah, ketimbang memberikan jawaban yang cepat. Ia melakukan penjelasan dengan cara melingkar yang terkadang membingungkan. Kapital, kembali ia menegaskan, tidak hanya terdiri atas alat-alat subsisten, instrumen kerja dan bahan bahan baku, tidak hanya produk material. Lebih dari itu, adalah nilai tukar (exchange-values) . Nah, gabungan dari keseluruhan bagian ini kemudian disebut komoditi. Tapi, kapital, tidak sekadar jumlah total dari produk-produk material; lebih dari itu, kapital adalah jumlah total dari komoditi, nilai tukar, sebuah magnitude sosial.

Tetapi, Marx mengatakan, jika seluruh kapital bermakna jumlah total komoditi, yang berarti adalah nilai-tukar, maka tidak semua jumlah total komoditi atau nilai-tukar adalah kapital. Seluruh jumlah total nilai-tukar, kata Marx, tetap sebuah nilai-tukar. Demikian juga, seluruh jumlah total nilai-tukar yang berbeda tetaplah disebut nilai-tukar. Sebagai contoh, sebuah rumah yang bernilai Rp. 1.000, berarti memiliki nilai tukar Rp. 1.000. Pertanyaannya kemudian, bagaimana sejumlah komoditi, nilai tukar, berubah menjadi kapital?

Di sini Marx mulai masuk pada jawaban yang lebih konkret. Katanya, kapital terus berubah bentuk seiring perkembangan proses ekonomi. Pada mulanya, ia berbentuk uang yang kemudian ditukar menjadi komoditi (alat-alat produksi dan tenaga kerja). Pada tahap ini, kapital berarti alat-alat produksi yang digunakan dalam hubungan produksi buruh kapitalis. Gabungan kedua hal itu kemudian menghasilkan sebuah komoditi baru, yang oleh para kapitalis kemudian dijual. Jika semuanya berjalan lancar sesuai harapan si kapitalis, maka ia akan memperoleh jumlah uang yang lebih besar dibanding jumlah uangnya semula.

Kapital dalam proses sirkulasi ini, mengambil bentuk Money -> Commodity -> Commodities -> Money’ atau M-C-C’-M’. Pada setiap tahapnya, kapital berubah bentuk tapi, dalam setiap kasusnya tetaplah merupakan kapital. Di sini, Marx menggunakan istilah kapital untuk menggambarkan proses sirkulasi tersebut, juga masing-masing elemennya atau menempatkan poin yang berbeda dengan merujuk pada sirkulasi uang dalam proses tersebut.

Dengan seluruh penjelasan ini, Marx mendefinisikan Kapital sebagai, “the `all-dominating economic power’ in bourgeous society.” ***

Kepustakaan:
Karl Marx, “Capital I,” Penguin Harmondsworth, 1979.
M.C. Howard & J.E. King, “The Political Economy of Marx,” New York University Press, 1985.
Robert C. Tucker (ed), “The Marx-Engels Reader,” second edition, W.W. Norton &
Company, 1978.

CH.Pontoh

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s