Besarnya kenaikan harga BBM memengaruhi daya beli masyarakat dan harga berbagai komoditas. Pengaruh langsung terasa khususnya untuk transportasi dan angkutan. “Bulan Mei saja pengaruh kenaikan harga BBM cukup besar dan memicu inflasi. Padahal perhitungan baru masuk sebagian kecil, apalagi pada Juni pengaruhnya akan jelas lebih terasa,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim R Lukito Praptoprijoko, Senin (2/6).
Inflasi di Jatim selama Mei juga terdorong kenaikan harga beberapa komoditas seperti beras dan tarif angkutan dalam kota. Naiknya harga beras di 13 kota yang diamati di wilayah Jatim diperkirakan sebagai imbas cadangan beras yang makin menipis. “Kondisi ini bisa berlanjut sampai beberapa bulan lagi,” ujar Lukito.
Namun, sebenarnya stok tiap bulan, terutama di Surabaya, tergolong aman. Rata-rata terdapat 3.500 ton jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) dan kurang dari 100 ton non-raskin setiap bulan. “Ketersediaan tersebut sampai sekarang relatif tidak ada gangguan,” tutur Kepala Sub Divisi Regional Perum Bulog Surabaya Tomy Christanto.
Berdasarkan data BPS Jatim, kenaikan harga premium sebesar 33,33 persen dan solar sebesar 27,91 persen menjadikan jenis komoditas ini menyumbang 0,41 persen inflasi Jatim. Beras, yang mengalami perubahan harga 3,81 persen, menyusul dengan menyumbang inflasi sebesar 0,22 persen. Tarif angkutan dalam kota, yang terkena dampak langsung kenaikan harga BBM, berubah 6,4 persen dengan sumbangan angka untuk inflasi sebesar 0,14 persen.
Dari kelompok jenis barang dan jasa, inflasi tertinggi berasal dari kelompok transportasi, komunikasi, serta jasa keuangan hingga 3,82 persen. (BEE)